Categories
Thoughts

#Unresolved 3 – Memecahkan Masalah Kecil yang Besar

Jadi satu lagi event #unresolved lagi lewat. Kali ini di Bandung. Dan seperti biasa, kami berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan masalah kecil di industri musik.

Robin Malau Unresolved 3
Yours truly membuka #unresolved Bandung. Foto oleh +Bob Merdeka

Jadi satu lagi event #unresolved lagi lewat. Kali ini di Bandung. Dan seperti biasa, kami berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan masalah kecil di industri musik.

Sebagai catatan, beberapa hari yang lalu saya merasa Unresolved sudah mulai mencapai orang-orang yang diluar lingkaran awal. Maka dari itu saya membuat artikel singkat tentang Sejarah Unresolved. Ternyata memang benar. Dari sekitar 20 orang yang hadir, lebih dari 10 yang saya tidak kenal, atau bukan berasal dari forum MET tempat penyakit Unresolved pertama tersebar. Tetapi semangatnya sama, karena acara kemarin ‘dikawal’ oleh beberapa pionir pemikir yang sudah pernah hadir di event Unresolved sebelumnya seperti Wiku dari Trenologi, Dimas dari Langit Data dan Mayo dari Protocol Afro.

Jadi kali ini acara berlangsung di Omuniuum, Jl. Ciumbuleuit Bandung. Dari jadwal jam 13:00 akhirnya dimulai jam 13:30 yang dibuka oleh yours truly yang berbagi soal 5 W + 1 H Unresolved dan langsung diikuti oleh resolver pertama Yulius Iskandar dari Bottlesmoker.

Yulius bercerita soal bagaimana memecahkan masalah band agar bisa banyak manggung di festival di luar negeri, terutama wilayah Asia. Yulius bercerita bahwa apa yang dilakukan Bottlesmoker adalah membangun jaringan di niche musik elektronik, seperti yang dimainkan duo asal Bandung tersebut, lewat media sosial di internet. Membangun jejaring hingga dapat membuahkan hasil tidak makan waktu sebentar, butuh waktu beberapa tahun.

Sementara itu Yulius juga berbagi bahwa hingga saat ini Bottlesmoker bukan menjadi sarana untuk mencari uang, malah untuk tempat bersenang diluar rutinitas personilnya mencari nafkah. Saya dan Bob Merdeka merasa kurang sreg dengan ungkapan bahwa band itu hanya menjadi tempat bersenang-senang. Jika bisa menjadi tempat mencari uang sambil bersenang-senang, kenapa tidak? Yulius menjawab mungkin ke depannya akan berubah, karena masalah tanggung jawab komersial, tetapi semua dikembalikan ke personil masing-masing; Angkuy dan Nobi.

Sementara itu Adhiet bertanya, “Apa yang membuat Bottlesmoker stand-out ditengah-tengah serbuan band yang membagikan musiknya secara gratis untuk diunduh?”. Yulius menjawab dengan mantap, “Inovasi. Selalu inovasi!”.

Bottlesmoker memang unik.

Resolver kedua adalah Hang Dimas. Tidak seperti Yulius yang sharing selama hanya kurang dari 25 menit, sesi Dimas jauh lebih panjang hingga lebih dari 1 jam. Karena, masalah yang dipecahkan pun lebih berat, rumit dan skalanya lebih besar. Apa itu? Lisensi Musik di Indonesia. Fucking hell, what the fuck is that shit? Jika Anda berpikir begitu, lanjutkan membaca.

Dimas, dengan perusahaannya Langit Data sedang membangun sistem lisensi musik di Indonesia. Cerita dibelakangnya adalah, Dimas terkejut ketika pertama kali mendapat cek di negara sebelumnya dia tinggal dan ngeband, Malaysia beberapa tahun yang lalu. Saat itu dia bertanya, “Ini uang apa?”. Ternyata uang tersebut adalah uang pembayaran lisensi dari lagu band nya dari radio, tv dan sumber lainnya. Hingga sekarang dia masih menerima cek pembayaran tersebut.

Melihat manfaatnya, mantan musisi yang sempat besar dan studi di Bandung ini melihat ke tanah air. Ini seperti melihat ke belakang, karena sistem lisensi musik di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak dulu, tapi berantakan amit-amit.

Singkat cerita, Dimas yang memiliki latar belakang studi Ilmu Komputer mengambil inisiatif untuk membangun sistem pengendalian lisensi musik di Indonesia dengan dukungan pelaku industri rekaman. Setelah menemukan sistem nya, langkah selanjutnya adalah melobi pemerintah untuk menetapkan sebuah Undang-Undang yang dapat mengatur masa depan lisensi musik di Indonesia.

Setelah Dimas, giliran Bob Merdeka, founder Maicih yang berbagi soal endorsement band. Bob bercerita bahwa Maicih pernah membuat kampanye yang sukses di Yogya dengan membuatkan show Sarasvati di Yogyakarta. Lewat konsep acara yang unik dan endorser yang tepat, merk Maicih mendapat momentum di Yogyakarta dan menurut Bob sang pendiri, popularitasnya masih bertahan hingga sekarang. Selain Sarasvati, Bob lewat merk Maicih juga pernah memberikan dukungan kepada band yang Bob rasa memiliki semangat yang sama dengan semangat seni dan kewirausahaan seperti Bottlesmoker, Efek Rumah Kaca (lewat projek Pandai Besi), dan Mocca (secret show, ini arsip Google Hangout-nya).

Lewat kesempatan ini Bob juga menyampaikan beberapa prinsip:

  1. Kekurangan-kekurangan yang biasa terjadi dalam kerjasama antara endorser (pemberi) dan endorsee (penerima), dan saran-saran bagaimana mengatasinya.
  2. Saran kepada musisi agar dapat memberikan ide yang bisa dilakukan bersama. Prinsipnya, ide menarik dan pas, tidak akan ditolak oleh brand, karena brand seperti juga musisi, butuh.

Setelah presentasi, Wiku dan Dani menyampaikan pentingnya pengukuran efektivitas brand berkampanye lewat band. Karena bisa memajukan dan memperbesar skala dan peluang endorsement musisi di masa depan.

Setelah itu, yours truly berbagi tentang “Membawa Band ke Luar Negeri Menembus Lautan Waktu, Biaya dan Birokrasi“.

Latar belakang mengapa saya memilih tema ini adalah karena band Sigmun gagal pergi ke Amerika beberapa waktu lalu. Isi presentasi saya adalah:

  1. Berita bagus bahwa band Indonesia mulai sering diundang ke luar negeri.
  2. Meski demikian, masih ada yang gagal pergi karena… banyak hal.
  3. Masalah dengan waktu adalah: waktu selalu tidak cukup. No room for error. Miss sedikit, waktu akan terbuang. Bisa-bisa gagal berangkat.
  4. Mencari biaya bisa dengan lewat banyak jalan seperti bantuan sponsor, lewat bantuan teman atau crowdsourcing.
  5. Bagian birokrasi memang cukup rumit. Normal, karena (mungkin) orang yang bekerja di imigrasi adalah orang-orang yang digaji untuk jadi orang rese dan menyebalkan. Tapi, dengan mengikuti prosedur, maka kemungkinan besar visa akan disetujui.
  6. Ada prosedur istimerwa untuk memperoleh visa negara barat (dari Indonesia). Negara-negara tersebut adalah Amerika, Inggris, dan negara-negara Eropa.
  7. Cara paling gampang adalah menemui narasumber yang tepat. Yaitu orang-orang yang pernah membawa band ke luar negeri. Saya sendiri dan Burgerkill tidak akan berhasil berangkat ke Inggris tahun lalu tanpa bantuan narasumber.

Mengurus Visa Negara Barat

Saya dan beberapa teman sedang menyusun sebuah tempat yang menampilkan narasumber yang bisa dihubungi oleh siapapun yang akan membawa band ke luar negeri. Salah satu yang nanti akan menjadi narasumber adalah Dimas.

Setelah selesai, Adhit dari Kuassa yang tadinya tidak berencana berbagi, ditodong untuk sharing soal projek game yang dia kerjakan bersama rekan-rekannya, yaitu Dreadout. Game ini dimulai dengan crowdsourcing di website Indiegogo mengumpulkan dana $29 ribu dari target $25 ribu. Game ini juga memakai soundtrack band-band dari Indonesia, termasuk Koil dan Sigmun.

Adhit juga menyampaikan ada opsi untuk menambah penghasilan musisi yaitu dengan membuat film scoring. Silahkan langsung kontak Adhit untuk mendapat penjelasan lebih lanjut.

Teaser Dreadout game bisa dilihat dibawah ini:

Acara akhirnya selesai sekitar pukul 17:30. Sejak awal hingga akhir, saya memperhatikan jarang ada partisipan yang meninggalkan ruangan saat acara yang berlangsung tanpa break sama sekali ini. Entah karena ngga enak dilihat yang lain karena ruangan kecil (semua melihat semua), atau memang tertarik dengan konten acara ini, atau penyebab lainnya. Yang pasti, saya tidak melihat seorangpun pulang sebelum acara selesai.

Jika kamu tertarik dengan apa yang dibicarakan diatas, tentunya masih akan ada acara Unresolved berikutnya. Jangan lupa gabung komunitas Musik, Teknologi dan Kewirausahaan untuk mendapat kabar terbaru.

Sampai jumpa di Unresolved berikutnya! 🙂

One reply on “#Unresolved 3 – Memecahkan Masalah Kecil yang Besar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *