Categories
Discoveries

SORRY, NOT EVERYONE CAN PLAY MANAGER!

Aslinya, artikel ini saya tulis untuk menanggapi baca Street School Forum (SSF) di Belia, Pikiran Rakyat, Selasa 9 Mei 2006. Sebagian besar jawaban yang diberikan relatif mewakili apa itu manajer band, tetapi saya ingin menuliskan beberapa masukan atas beberapa informasi dan pola pikir yang kurang tepat. Well, dari versi orisinil, saya edit agar bisa berbentuk artikel.

Fenomena Manajer Band dan Mensejajarkan Gaji Manajer Band dengan Manajer Perusahaan Multinasional
Fenomena manajer band tidak terjadi begitu saja di Indonesia. Ini terjadi karena globalisasi musik barat yang semakin meningkat serta perubahan makro sosial ekonomi dan politik yang merubah cara pikir masyarakat Indonesia. Tentunya industri musik Indonesia juga ikut kena dampaknya, berkembang dan menyebabkan permintaan (demand) sumber daya dengan keahlian-keahlian khusus. Demand ini salah satunya pada stakeholder industri musik, yaitu Artist Management (atau sebut saja manajer band). So yes, it’s on!

Penghasilan beberapa manajer band tentu dapat disejajarkan dengan gaji manajer perusahaan multinasional, tetapi yang pasti, manajer band merupakan seseorang yang berpotensi untuk menjadi wirausahawan atau memiliki perusahaan sendiri. Karena, pertama, seorang manajer band bisa mendirikan dan mendaftarkan sendiri perusahaannya (misalnya perusahaan Artist Management) nya, dan bisa jadi manajer lebih dari 1 band, bahkan bisa bisnis lainnya juga. Jadi, sebagai wirausahawan, manajer band bicara keuntungan (angka-angka paling bawah di statement laba rugi), bukan gaji, seperti manajer perusahaan multinasional. Dan kedua, sumber laba manajer band adalah persentasi keuntungan band, bukan gaji dari band.

Kalaupun misalnya manajer band bergaji, gaji manajer band setingkat DEWA bisa jadi sudah bisa disejajarkan dengan manajer perusahaan multinasional (dengan catatan; status regional labour; level manajer departemen; perusahaan multinasional berkantor di Indonesia).

Manajer Band Tidak Memerlukan Titel Tertentu dan Background; Many Have Tried and Failed!
Dalam rule of thumb di semua buku pedoman maupun pelaku bisnis manajer band yang saya temui, meskipun bisa menjadi kelebihan tersendiri, titel pendidikan tertentu memang tidak diperlukan. Lagipula, di Indonesia belum ada gelar akademik khusus untuk seseorang yang memiliki kemampuan manajemen bisnis musik. Tetapi background pengetahuan manajemen secara praktis harus dimiliki manajer band. Manajer band yang sukses adalah manajer yang bisa mengoptimalkan pengetahuan manajemen bisnis musik yang spesifik namun sederhana.

Tugas Manager Band Sebagai Pengelola Stakeholder Internal dan Eksternal
Seperti yang SSF sampaikan mengenai tugas sejati seorang manajer (paragraf 2), pada hakikatnya adalah POAC – Planning, Organizing, Actuating, Controlling (dalam ilmu kepemimpinan disebut POAL; L = Leading). Pada hakikatnya, sebenarnya job description dari manajer band adalah ‘managing internal personnel’, sementara hubungan dengan pihak luar adalah tugas Music Agency (agent). Hanya, model seperti itu belum berjalan di Indonesia, sehingga, kebanyakan manajer band di Indonesia menjadi agent juga.

Jadi, untuk urusan internal, setidaknya seorang manajer band harus tahu dasar-dasar atau prinsip-prinsip akuntansi keuangan, manajemen strategi, sumber daya manusia, operasi, keuangan, penyusunan perencanaan bisnis serta kepemimpinan organisasi. Prinsip yang terakhir sangat dibutuhkan untuk memanage hubungan interpersonal; misalnya memberi nasihat, membangun suasana agar tetap menjadi organisasi kreatif, menjaga agar band tidak pernah sampai ke titik jenuh, taktik delegasi yang efektif, membangun team work hingga pengambilan keputusan.

Sementara fungsi manajer band yang berhubungan dengan pihak luar sebagai ‘Public Relation’; seorang manajer band setidaknya harus tahu dasar-dasar manajemen pemasaran.

Semakin besar dan sukses band yang dimanage, semakin luas pula pengetahuan dan kemampuan manajerial yang dibutuhkan seorang manajer band untuk dapat bertahan.

Pernyataan: Jika sekiranya pihak label records tertarik, maka tugas selanjutnya adalah memberikan nasihat serta petunjuk kepada para personel mengenai kontrak yang akan ditandatangan antara band dengan label. Karena biasanya sangat jarang terjadi seorang manajer ikut menandatangani kontrak dengan label records (Paragraf 10).
Bagaimana mungkin seorang manajer band dapat menasihati dan memberi masukan pada band yang akan tandatangan kontrak album rekaman (label), jika manajer itu tidak punya background pengetahuan? Setidaknya manajer band harus punya pengetahuan tentang hukum (entertainment law; copyright dsb). Sehingga manajer dapat melakukan assesment kontrak yang akan ditandatangani secara menyeluruh. Manajer band dapat memberikan nasihat yang objektif dan terukur kepada band, dengan terlebih dahulu mengukur elemen-elemen; jangka waktu, sistim royalty, hak dan kewajiban kedua pihak. Kontrak itu yang akan mendasari hubungan bisnis dengan perusahaan rekaman, serta sebagai panduan bagi manajer band untuk merancang strategi bisnis band sepanjang masa kontrak.

Lagipula, sekedar informasi, sebagian besar manajer band ikut tandatangan kontrak, biasanya sebagai saksi. Kemudian sang manajer band ditunjuk sebagai wakil band untuk urusan korespondensi dengan perusahaan rekaman. Jadi manajer band terlibat langsung dengan penandatanganan kontrak band dengan label. Memang pada prakteknya banyak label yang tidak mau berurusan dengan manajer, melainkan berhubungan langsung dengan personil band. Ini disebabkan karena kebanyakan manajer band hanya menjadi ‘penghias’ dari band, dan tidak melakukan tugas-tugas manajerial. Dan saya tidak setuju mereka itu disebut manajer band; mereka lebih pantas disebut ‘asisten’ (atau mungkin sekretaris). Tetapi, seiring meningkatnya minat orang-orang yang berpengalaman dan berpendidikan manajemen menjadi manajer band, serta meningkatnya kemampuan manajer band secara umum, beberapa label besar sudah mulai menyerahkan urusan-urusan manajemen band kepada manajer band.

Kita semua sudah cukup mendengar cerita horor tentang band yang salah sign kontrak, terikat kontrak jangka panjang dan menjalankan tahun-tahun tidak produktif. Ini bukan salah kontraknya, tapi sebagian besar karena salah bandnya yang terburu-buru dan manajer band tidak memiliki pengetahuan.

Kesimpulan, Masukan dan Saran:
1. Sebaiknya seorang manajer band punya background pengetahuan manajemen & hukum bisnis. Pengetahuan tersebut bisa didapat dari sekolah atau cari referensi sendiri dan jadi street smart. Sebenarnya ini peraturan yang berlaku untuk manajer dimanapun, bukan hanya manajer band.
2. Memiliki manajemen yang kuat juga bukan berarti menjamin kesuksesan. Contoh; awal kesuksesan Peter Pan dan Sheila on 7 bukan karena memiliki manajemen yang kuat, tetapi memiliki lagu hit yang kuat. Manajemen band pada kasus ini tentunya lebih melakukan pekerjaan yang bersifat klerikal, bukan manajerial. Tetapi setelah band-band tersebut sukses, maka perlu dibentuk manajemen bisnis yang kuat, yang mampu mempertahankan kesuksesan band tsb.
3. Melakukan kegiatan promosi band, jangan asal sensasional tanpa punya value (dalam hal ini musikalitas dan konsep yang kuat), no wonder this country becomes infotainment nation!
4. Meminjam istilah Radiohead, ‘Anyone Can Play Guitar’, maka SSF pun mengatakan ‘Anyone Can Play Manager’. Menurut saya, istilah ini ngga bisa digeneralisir. Mohon mencari padanan kata yang sesuai. Untuk seorang manajer, kata ‘manajer’ itu cukup keramat, dan akhir-akhir ini sering memiliki pengertian yang klise akibat overused.
5. Sayatidak meragukan sedikitpun pengetahuan dan kemampuan Street School Forum. Saya sudah baca beberapa artikel sebelumnya, and i found some really interesting things. I know you guys are street smart practitioners, you gain knowledge from the street and gain a success in business (i truly believe you are). Tapi j
ika boleh memberi saran, sebaiknya sebelum menjawab pertanyaan untuk topik yang spesifik seperti ini, ada baiknya menggali dulu informasi dari para pelaku atau setidaknya buku-buku pedoman.

Thanks & Cheers!

– Lowrobb, Mei 2006 –

Originally published in I’M STOKED!! newsletter, May 2006

27 replies on “SORRY, NOT EVERYONE CAN PLAY MANAGER!”

Menarik Sekali Revisi Arikelnya Sob..
Kalu Boleh Mo Numpang Konsul neh…
Singkat Aja..Kita Band Baru yang Coba Nonggol Diantara Beribu Mungkin Berjuta Band di Negeri ini..
Ceritanya Kita Baru beres Rekaman 10 Lagu, cuman baru sampai mixing, Kita tawarkan ke beberapa relasi-relasi kita, alhasil kita dapat tawaran dari major label hingga kita dikirim draff kontrak, alhasil Kita agak sedikit bingung, (.. setelah kita baca artikel diforum ini, kira2 apa yang kita harus segera lakukan, apakah segera mencari konsultan hukum untuk membedah isi kontrak itu or kita cukup cari manajer band yang sudah punya pengalaman ngurus band, kebetulan kita belum punya orang yang ngurus neh.trus kalu ada kandidat yang cocok, tolong kasih tau kita ya Sob..
Baru Seminggu dapat Kontrak kita temuin CD Lagu-lagu Kita telah Tersebar di tempat2 jual CD Bajakan Mulai dari CD MP3, CD Audio, VCD Karaoke Buset Dah Ampun Gw Maaa Dah.. Apa Yang Harus KIta Lakukan Sodara-Sodara..BAntuin KITA DONK….Tq Klu Ada yang Sudi Membantu Smoga Dibuka Jalan Menuju SURGA…AMIEN

Hai Shidoe,

Wah, baik banget perusahaan rekamannya mau ngirim draft, beberapa dari mereka ngasih kontrak standar, jadi kondisinya seperti kontrak mau buka rekening di bank, take it or leave it.

Untuk bedah kontrak, saran saya:

1. Memang bisa saja consult sama penasihat hukum, tetapi cobain dulu sama yang kenal. Jadi ngga terlalu mahal bayarnya.
2. Atau, coba consult sama artis dan atau manajer band yang se-label dengan kamu.

Pada dasarnya, beberapa hal yang paling penting diperhatikan sebelum menandatangani kontrak album rekaman yaitu:

1. Jangka waktu Kontrak.
Ini harus diperhatikan dengan baik dan diselaraskan dengan perencanaan karir kamu. Artinya, misalnya lamanya 3 tahun, bayangin dulu 3 tahun ke depan band kalian seperti apa… Lantas, bersama-sama dengan manajer kamu coba bikin rencana selama setidaknya 3 tahun.

2. Royalty
Perhatiin ada yang namanya royalty Mekanik, Artis dan Produser gak. Juga perhatikan masalah royalti untuk format produk lain seperti ringtone dan ringbacktone, harus jelas royalty-nya.

3. Exit Strategy
Baca dan kenali kondisi2 apa saja yang bikin kontrak bisa diputus, setelah kontrak habis bagaimana hubungan kalian dengan label tersebut.

Dan yang terakhir adalah Plan B, jika sukses, kalian punya uang cukup untuk hire manajer profesional untuk urus band kalian, kalau ngga sukses… nah itu yang musti kalian bayangin: apa yang akan kalian lakukan jika band kalian ngga sukses.

Sisanya, kontrak ya standar sih.

Semoga berguna kalau ada pertanyaan lain mohon posting komentar lagi.

Trims & Good luck.

i’m agree 100% bro..
mdh2an byk artist manager yg baca article ini..Saya jg seorang manager band yg sedang belajar menjadi manager artis yang baik,
tq utk pencerahannya..

aku manager hinode band,tapi saya banyak banget kenalan ama pihak2 yg mau ngadakan acara??????????
terus apa sich yang harus aku lakukan untuk band aku maju??????
trus gimana sich buat proposal untuk melakukan kerja sama???

trimssss

amiennn

Amien, pertanyaan kamu ngejelimet. Kalau pertanyaan ngejelimet resikonya jawabannya juga ngejelimet.

Kalau mau banyak dapet diskusi dan masukan, daftar aja di forum Musikator di http://www.musikator.com/forum Amien posting disana.

Yang udah-udah banyak member yang reply.

Semoga membantu, thanks.

Bro, Edelweiss band adalah Band asal balikpapan yang sejak April 2007 mulai hijrah ke Jakarta. Album perdana di garap RnB Records yang didistribusikan nasional oleh M Studio. Promo RnB ga ada sama sekali, memang dalam kontrak Pihak Edelweiss yang harusnya lebih pro aktif, but promotion is expensive!!…

Saat ini Edelweiss sudah memiliki materi 14 lagu untuk Album kedua, genre Pop-Jazz-Rock (Alternatives) Sony & Nagaswara komen saat ini style Edelweiss lagi ga trend, but They ask us to “Titip Edar” dengan meminta Budget Promo minimum 500 juta!! Wah…. Kita coba masukkan demo ke beberapa label lainnya, Kalau ada referensi atau masukkan, most welcome Bro!!…

Ardian, saya udah dengar Edelweiss dan jika tidak salah disana banyak potensi. Sayangnya saya sudah pensiun total dari dunia musik. Saya sudah balas email ya.

Sukses selalu dan salam untuk teman-teman semua, cheers.

sorry bos mau minta saran nih.Ane baru aja buat band baru and udah ada lagu yang disiapin.pertanyaanya, untuk sekarang ini perlu gak nyari manejer atau nyari manejernya tunggu sudah dapat kontrak dari label aja??? sebelum atau sesudah?? Thanks!!!

@imok, bro.

Dari awal sudah rekrut/ngajak band manajer malah menurut saya sih bagus. Misalnya, manajer band kamu ngga usah ‘manajer profesional’ karena belon ada duit buat ngegaji, tapi kamu ajak teman yang punya pengetahuan lebih masalah manajemen dan bersedia jadi manajer kalian.

Sambil band kamu tumbuh, sambil kalian sepakati masalah-masalah kerjasama, pembagian kerja. Jangan lupa kalau ada bagi kerja ada juga bagi hasil.

Saya lihat, banyak tuh band berhasil yang ngga rekrut manajer sesudah mereka signing sama label. Tapi sejak awal mereka sudah kompak dan tumbuh kembang bersama.

Yang paling penting menurut saya, kalian harus sepakat, punya komitmen untuk belajar secara terus menerus dan mampu memelihara semangat komunikasi.

Semoga berguna.

@real, true.

Tapi KHUSUS untuk praktek industri musik Indonesia, practically harus berubah (if that makes any sense…).

Hi Bro,

Mau nambahin lagi, buat band manager yang band-nya punya cita-cita go international, musti-kudu-wajib bisa berbahasa Inggris yang lancar dong…Cheers!

Yo’i Bro,

Nambah lagi dah tuh ‘must have skill’nya. Damn, not everyone can play manager yah. Only ones who have persistence and determination to learn…

Cheers.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *