Categories
Thoughts

Pelajaran dari Songkick

Songkick

Di hari ke 3 perjalanan saya ke UK bersama British Council, Songkick, sebuah start-up asal London yang membuat database live music di seluruh dunia, menjadi pemberhentian pertama. Di sana, kami bertemu dengan Ian Hogarth, co-founder dan CEO.

Di terima di meeting room, Ian yang juga pemenang YCE Music tahun 2010 British Council wilayah UK, bercerita apa bisnis Songkick, bagaimana revenue model-nya, dan bagaimana dia memulai Songkick bersama beberapa orang temannya hingga sekarang memiliki karyawan 26 orang, dan mendapat trafik 10 juta orang setiap bulan. Sebagai referensi, Live Nation, market leader di live music dunia mendapat kunjungan 15 juta orang setiap bulan.

Singkat cerita, Songkick adalah website untuk mengikuti jadwal tur band favorit kamu dan mengetahui kapan mereka datang ke kota kamu. Sekarang sudah tidak perlu lagi berlangganan newsletter dari berbagai website band (itu juga jika mereka punya) tapi cukup dengan memiliki akun Songkick, kamu bisa menerima banyak informasi konser hingga membeli tiket.

Setelah bercerita beberapa menit, sesi pertemuan diteruskan dengan tanya jawab. Delegasi yang datang memberikan banyak pertanyaan, tapi selain ditanyai, pada kesempatan ini Ian juga bertanya bagaimana sistem ticketing di negara America Latin yang diwakili oleh Brazil dan Colombia. Juga bagaimana sistem yang berlaku di Malaysia, dan di jawab oleh Rahul dari Future Music Asia dan Adrian dari Freeform.

Saya juga memberikan beberapa pertanyaan, salah satunya adalah, mengapa dia memilih membuat database live music. Jawabannya menarik, karena menurut Ian, secara intuitif setiap entrepreneur musik yang melihat internet yang mereka ingin buat adalah tombol play, agar orang bisa ‘menyalakan internet’. Itulah definisi internet bagi banyak entrepreneur teknologi. Tapi sebenarnya mengumpulkan data live music adalah krusial, karena live music adalah sektor yang tidak akan pernah mati dan akan tetap menarik hingga kapanpun. Jadi membuat bisnis teknologi yang berhubungan dengan musik bukan hanya membuat tombol play, ungkapnya. (SETUJU!)

Melihat perkembangan Songkick hingga sekarang, sepertinya perusahaan yang berkantor di Hoxton St., di wilayah yang juga menjadi lokasi kantor beberapa tech start-up, ini akan melenggang sendirian karena sudah melesat jauh dibanding perusahaan sejenis.

Musikator akan menggunakan app Songkick untuk tracking kegiatan live music band yang tergabung dengan Musikator. Anyway, foto saya di bawah ini diambil di depan salah satu tembok di ruangan depan kantor Songkick. Kode hexadecimal corporate color nya di tulis di tembok. Cool stuff.

One reply on “Pelajaran dari Songkick”

[…] Setelah melewati perjalanan sekitar 40 menit, kami tiba di dekat Hoxton street dan berjalan kaki ke kantor Songkick. Tiba di sebuah tempat seperti ruko, kami naik ke lantai 3 tempat kantor Songkick dan berkumpul di depan pintu masuk kantor. Tak lama Ian Hogarth, CEO Songkick keluar menyambut kami dan memberitahu bahwa tempat meeting sudah di set untuk jam 11 AM tepat. Kami tiba lebih cepat 15 menit, dan karena tidak ada tempat untuk menunggu maka kami turun lagi ke bawah dan duduk-duduk di coffee shop kecil di seberang jalan. Setelah menunggu, kami kembali ke atas 15 menit kemudian. Detil kunjungan kami ke Songkick bertemu dengan Ian Hogarth saya tulis dan bisa dibaca lewat link ini. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *