Categories
Thoughts

Belajar dari Kota Musik UNESCO: Liverpool dan Glasgow

Tanggal 18-25 Novermber 2017, saya memfasilitasi Deputi V Badan Ekonomi Kreatif RI untuk melakukan Studi Banding Kota Musik UNESCO ke Liverpool dan Glasgow. Kedua kota itu adalah anggota sub-network Kota Musik di badan pendidikan dan budaya PBB tersebut. Hasil dari studi banding tersebut akan menjadi referensi untuk mengantar Kota Ambon ke jaringan UNESCO Creative Cities Network (UCCN).

Liverpool memiliki keistimewaan warisan musik, terutama dari The Beatles. Secara kolektif kota tersebut sepakat untuk mengoptimalkan warisan tersebut serta mengembangkan generasi musik baru. Liverpool berhasil menjadi anggota UCCN sejak tahun 2015.

Sementara itu Glasgow merupakan penyumbang ekonomi musik terbesar kedua di Inggris Raya, hanya di bawah kontribusi London. Kota ini juga menjadi anggota UCCN sejak tahun 2009, dan menjadi kota ketiga yang bergabung di jaringan tersebut. Sebagai kota senior di jaringan, Glasgow memiliki suara untuk ikut memilih kota yang mendaftar.

Dibantu oleh British Council, saya membuat rencana perjalanan dan membuat janji dengan pihak-pihak kunci yang berhubungan dengan program musik. Ringkasan perjalanannya seperti di bawah ini.

Bertemu Kevin McManus

Kevin adalah pengurus dan penghubung kota Liverpool dengan UNESCO dalam kapasitas mereka sebagai City of Music dalam UNESCO Creative Cities Network. Dalam pertemuan yang dihadiri Deputy V Bekraf RI tersebut, Kevin bercerita bagaimana Liverpool dapat menyandang gelar City of Music dari UNESCO.

Selain menjaga warisan musik The Beatles, Liverpool juga berkomitmen untuk mengembangkan musik baru. Selain program lainnya dibidang seperti pendidikan dan media, terhitung ada 4 festival besar untuk musik baru di kota yang hanya berpenduduk 400 ribu orang tersebut, yaitu Liverpool Music Week, Liverpool International Festival, Liverpool Psych Fest dan Liverpool Sound City.

Salah satu tonggak yang mengantar Liverpool masuk ke jaringan kota elit dunia adalah saat kota pelabuhan tersebut diberikan gelar “Europe Capital of Culture” pada tahun 2008. Selama setahun, aliran dana dan bantuan masuk dari berbagai organisasi donor, terutama Uni Eropa, yang membantu Liverpool untuk melakukan regenerasi bangunan, mengubah merek kota, serta mengekspos dan meningkatkan profil, yang menciptakan keuntungan budaya, sosial dan ekonomi dalam cakupan benua Eropa dan internasional.

Peran komunitas dan industri sangat krusial untuk memelihara Liverpool sebagai kota musik. Sementara itu peran pemerintah diharapkan dapat ditingkatkan agar secara bersama dapat menggunakan sumber daya yang ada.

Mengunjungi The British Music Experience

Kevin juga kurator dari British Music Experience, sebuah museum yang menceritakan musik Inggris sejak tahun 1944 melalui kostum, instrumen, penampilan dan memorabilia. Sejak masuk lewat pintu utama hingga keluar di merchandise shop, pengunjung disuguhi cerita yang disusun dengan narasi yang runut dan tampilan visual spektakuler.

Kelebihan museum ini dibanding museum musik tradisional adalah disain visual yang modern, penggunaan teknologi tepat guna, dan ramuan cerita yang tidak hanya mudah dimengerti, tetapi juga melibatkan pengunjung. Museum ini berlokasi di “Cunard Building”, sebuah gedung yang terdaftar sebagai gedung bersejarah tingkat 2, dan merupakah bagian dari penghargaan UNESCO kepada Liverpool sebagai World Heritage Maritime Mercantile City.

Makan siang di The Fab Four Cafe

Setelah menikmati suguhan museum, rombongan mengunjungi cafe di seberang The British Music Experience yang dibangun untuk mengenang The Beatles yang dijuluki The Fab Four pada masa jayanya.

Cafe ini menjual makanan dan minuman ringan dengan harga terjangkau. Bagian belakang cafe menghadap ke laut sehingga pengunjung dapat menikmati pemandangan Liverpool Pier yang terkenal sambil menyantap hidangan.

Berkunjung ke The Beatles Story

Karena popularitasnya, memorabilia The Beatles tersebar di banyak museum, The Beatles Story adalah museum dengan memorabilia band legendaris paling lengkap di dunia dan menceritakan sejarah sejak awal. Museum ini terletak di Albert Dock yang penuh sejarah.

Selain memorabilia, di dalam The Beatles Story dibangun replika The Cashbah Coffee Club, The Cavern Club, dan studio Abbey Road, tiga tempat yang sangat erat berhubungan dengan sejarah perkembangan The Beatles.

Mengunjungi The Cavern Club

The Cavern Club adalah klab malam yang berada di Mathew Street, jalan yang dikenal sebagai tempat kelahiran The Beatles.

Cavern Club dibuka pada 16 Januari 1957 awalnya sebagai klab yang menampilkan musik jazz, tetapi menjadi pusat skena musik rock and roll di Liverpool di era 60-an. The Beatles secara reguler tampil di sana, dan berbagai legenda musik rock and roll Inggris lain seperti The Who juga pernah tampil di sana.

Klab tersebut dihancurkan dan ditutup pada bulan Maret 1973 dan dibuka kembali pada 26 April 1984 setelah dibangun kembali menggunakan sebagian besar batu bata orisinil dan mencapai sekitar 75% dari bangunan aslinya. Hingga sekarang klab tersebut tidak pernah berhenti dikunjungi turis yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Bertemu David Pichilingi, Liverpool Sound City

David adalah pendiri dan pengelola salah satu festival terbesar untuk pengembangan musik baru khusus untuk wilayah Liverpool dan Manchester. Selain berkembang untuk ekosistem musik di wilayah Inggris Barat Laut, Sound City juga mengembangkan sayapnya di luar negeri yaitu di Korea Selatan, Cina dan Amerika.

  1. Beberapa poin yang didapat dari diskusi dengan David adalah sebagai berikut:
    David merasa bahwa Liverpool layak mendapatkan gelar City of Music dari UNESCO, karena di Liverpool banyak tercipta musisi legendaris.
  2. Liverpool belum menggunakan merek UNESCO, yang sebenarnya sudah melekat pada kotanya, secara optimal.
  3. Peran pemerintah seharusnya dibatasi sebagai fasilitator, dan tidak mengelola acara sendiri karena akan bentrok kepentingan dan bersaing dengan industri.
  4. Rencana untuk strategi pengembangan musik level kota sudah ada, kuncinya adalah pelaksanaannya nanti. Peran pemerintah lagi-lagi diharapkan sebagai fasilitator.
  5. Peran aktif sektor swasta sangat krusial untuk menjadikan Liverpool sebagai Kota Musik kelas dunia.

Bertemu dengan Janie dan Naomi dari Glasgow Life

Glasgow Life adalah organisasi nirlaba yang mengurus berbagai aset budaya pemerintah di kota Glasgow termasuk program dan korespondensi yang berhubungan dengan UNESCO Creative Cities Network dalam kapasitas Glasgow sebagai Kota Musik.

Sebagai pengurus, Glasgow Life membentuk tim yang mengisi berbagai fungsi. Janie dan Naomi bekerja sebagai pengurus bagian Budaya dan Seni. Dalam fungsinya, Janie juga ikut memberi masukan ketika UNESCO melakukan seleksi kota-kota baru yang ingin bergabung di jaringan Kota Musik. Maka dari itu diskusi yang berlangsung sekitar 45 menit di kantor Glasgow Royal Concert Hall, yang merupakan salah satu aset yang dikelola Glasgow Life.

Beberapa poin pembicaraan adalah sebagai berikut:

  1. Salah satu tonggak kemajuan pesat sektor budaya di Glasgow adalah ketika kota kedua terbesar di Skotlandia tersebut dinobatkan sebagai European Capital of Culture pada tahun 1990 oleh Uni Eropa.
  2. Tujuan dari dilakukannya program musik di Glasgow adalah untuk meningkatkan taraf hidup artis, musisi, pengelola bisnis musik seperti festival, gedung konser, bar dan lain sebagainya.
  3. Glasgow menyadari adanya warisan musik yang sangat berharga di kota tersebut dan melakukan berbagai upaya untuk melestarikannya.
  4. Merek UNESCO yang melekat di kotanya digunakan seoptimal mungkin untuk membentuk citra dan mereka kota yang memberikan keuntungan di bidang ekonomi, politik, sosial dan budaya.
  5. Jaringan Kota Musik membutuhkan anggota yang dapat memberikan nilai tambah pada jaringan itu sendiri.
  6. Salah satu tujuan jaringan Kota Musik UNESCO adalah mengoptimalkan keanggotaan dan memaksimalkan musik sebagai alat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat kota.
  7. Pendidikan musik mendapat perhatian besar dari pemerintah. Glasgow memiliki The Royal Conservatoire of Scotland, yang diklaim merupakan institusi pendidikan musik terbaik ketiga di dunia.
  8. Art Council dan badan-badan sejenis memberikan dukungan sangat besar untuk perkembangan musik di Glasgow.

Glasgow Music City Tours

Kota Glasgow terkenal akan lokasi-lokasi pertunjukan musiknya yang fenomenal. Terletak di antara gedung-gedung peninggalan jaman kejayaan kerajaan Inggris Raya, lokasi-lokasi ini meninggalkan cerita konser-konser yang tak terlupakan dari The Beatles, The Rolling Stones dan band-band sekelas mereka.

Glasgow Music City Tours menawarkan cerita tentang lokasi-lokasi pertunjukan musik paling penting sambil berjalan kaki. Tempat-tempat ini, dan orang-orang yang menggunakannya, membentuk lansekap musik Glasgow yang legendaris, hingga diakui oleh UNESCO sebagai Kota Musik pada tahun 2009.

Tur dimulai dari Glasgow Royal Concert Hall, yang merupakan gedung konser andalan yang terletak di jantung kota. Gedung ini merupakan pernyataan dari pemerintah kota bahwa musik adalah bagian sangat penting dari kota Glasgow.

Setelah itu kami berjalan ke Pavilion Theatre dan mendengar cerita-cerita tentang Odeon (termasuk konser oleh Beatles, Rolling Stones dan lain sebagainya). Kemudian kami mengunjungi Apollo, sebuah gedung konser tua yang sudah tidak ada tetapi banyak digunakan untuk konser-konser hebat di era 70-80an yang melibatkan legenda seperti David Bowie, Lou Reed, Alice Cooper dan lain sebagainya.

Berturut-turut kami berjalan ke The Royal Conservatoire of Scotland, Theatre Royal, Piping College/Museum, dan Glasgow School of Art, tempat banyak sekali berdirinya band rock Skotlandia yang mendunia seperti Travis, Franz Ferdinand dan Belle and Sebastian.

Centre for Contemporary Arts Glasgow adalah tujuan kami berikutnya, sebuah pusat budaya yang dulunya merupakan gedung konser jazz tempat Pink Floyd dan T-Rex melakukan show-nya di Glasgow. Kami berjalan terus hingga menemukan gedung pertunjukan ABC, yang dimiliki oleh jaringan O2 Academy Music Group. Lokasi terakhir yang kami kunjungi adalah King Tut’s, gedung konser kecil tempat di mana Oasis pertama kali menandatangani kontrak rekaman.

Kesimpulan

Dari kegiatan yang berlangsung dari 18-25 November tersebut, bisa disimpulkan bahwa:

  1. UNESCO Creative Cities Network (UCCN) adalah jejaring eksklusif. Kota yang bisa bergabung tidak hanya memiliki sejarah dan narasi musik yang hebat, tetapi juga memiliki rencana pengembangan untuk masa depan, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
  2. Ada berbagai jenis Kota Musik dan memiliki strategi yang disusun khusus untuk kebutuhan kota masing-masing, tetapi menggunakan framework yang kurang lebih sama.
    Kota Liverpool dan Glasgow memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan sangat berbeda dengan kota-kota lain di UCCN, seperti Hannover, Hamamatsu, Kingston, Adelaide, Katowice dan Kinshasa.
  3. Untuk menyusun program kota musik yang strategis, peran sektor swasta dan beneficiaries (pihak yang mendapatkan keuntungan langsung) harus dikedepankan.
  4. Berjejaring dengan kota-kota UCCN di sub-jaringan Kota Musik bisa menjadi jalan masuk, meski bukan jaminan, ke UCCN.
  5. Kota yang berkeinginan mendaftar dan bergabung harus mengerti kelebihan dan kekurangan sendiri dan membangun strategi pengembangan berdasarkan kelebihan tersebut.
  6. Ada 5 kota paling senior di jaringan yaitu Sevilla, Bologna, Glasgow, Ghent dan Bogota. Mereka memiliki suara untuk merekomendasi dan memilih anggota baru. Saat ini ketua pengurus jaringan kota musik dipilih dari pengurus kota Ghent di Belgia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *