Categories
Thoughts

Mengapa Saya Tidak Akan Main Skate di Loop Station Lagi

Skatepark di Loop Station. Foto: Cholay.
Skatepark di Loop Station. Foto: Cholay.

Kemarin, hari Minggu malam karena ingin berkeringat, saya memaksakan diri untuk mampir ke Loop Station (LS), di Bandung. Di tempat tersebut ada sebuah sudut kecil yang dijadikan tempat bermain skate. Karena kebanyakan teman saya bermain di sana, jadi secara natural, jika saya ingin main skate ya saya main di sana juga. Malam itu saya datang dengan anak saya, karena tanpa sadar saya terpengaruh film Gnarly in Pink. Sebuah film pendek tentang anak-anak sebaya anak saya yang bermain skateboard.

Sesampai di sana beberapa teman tampak sudah hadir. Ada yang duduk, ada yang sudah berkeringat. Saya mengambil sebuah kursi, duduk dan memakai sepatu. Sementara itu anak saya sudah mengambil kursi duluan dan dengan semangat mengomentari skateboarder yang sudah meliuk-liuk di skatepark kecil yang tidak proporsional tersebut.

Setiap datang ke LS, saya selalu dihampiri Sales Promotion Girl (SPG) yang membawa tablet dan meminta data pribadi. Pertama kali dimintai informasi, saya bertanya “Mengapa saya harus mendaftar?”. SPG menjawab, “Biar bisa main di dalam Pak”. Saya melihat ke arah bangunan di sebelah cafe yang ditunjuk SPG, kemudian bertanya lagi, “Memangnya ada apa di dalam?”. SPG menjawab, “Macam-macam, Pak. Ada video game dan banyak lagi”. Oh saya paham, Loop Station bukan Loop Skatepark. Tapi sebuah fasilitas bermain untuk anak muda, dan salah satu arena bermainnya adalah skatepark. Kemudian saya menolak memberikan data pribadi saya. Karena saya tidak tertarik main ke dalam. Saya datang ke situ hanya tertarik main skateboard.

Saat itu juga, hari pertama saya datang ke sana, saya sadar tidak bisa berharap banyak.

Sesaat sebelum saya selesai memakai sepatu, tiba-tiba muncul seorang SPG yang menghampiri anak saya menyapa dengan gaya yang sok akrab. Saya biarkan saja, selain karena saya suka melihat anak saya bergaul luas, juga karena hukuman terberat untuk orang sok akrab hanyalah dicuekin. Kemudian masih dengan gaya sok asiknya dia mengeluarkan komputer tablet dan memandang saya, “Pak, minta datanya ya. Biar bisa pake gelang ini”, ujarnya sambil menunjukkan segepok gelang tangan plastik/kertas.

Saya menolak, sebab:
1. Sepengetahuan saya, ‘mendaftar’ di sana adalah agar bisa menggunakan semua fasilitas di LS. Saya hanya perlu skatepark-nya.
2. Saya tidak mau menggunakan gelang yang diberikan. Karena tidak sesuai dengan pakaian yang saya pakai.
3. Saya tidak akan memberikan data pribadi kecuali ke perusahaan yang memang benar-benar membutuhkan data pribadi, dan keuntungan untuk saya jelas.

Ketika saya tanya, Kenapa kamu butuh data pribadi saya?”. SPG menjawab, “Setiap main skate di sini harus mendaftar Pak!”. Kontan saya jawab, “Ya sudah. Saya tidak akan main skate lagi di sini!”

Teman-teman saya tampak bingung, ada yang terlihat shock, bahkan beberapa menunjukkan ketidaksetujuan. Mungkin mereka berpikir, “Ah, disuruh mendaftar saja kok repot”.

Saya tidak masalah kok disuruh mendaftar. Sebelumnya saya sudah dengan suka rela mendaftar ke perusahaan seperti Google, Twitter, Facebook dan banyak lagi. Saya mendaftarkan rekening bank. Saya mendaftarkan diri menjadi wajib pajak. Dan lain sebagainya. Bahkan saya memberikan data pribadi saya ke mereka dan mempercayakan banyak informasi yang berhubungan dengan pekerjaan saya.

Jadi apa hubungannya antara mendaftar di LS dan social media?

Perusahaan seperti Google, Facebook dan Twitter, meminta data dan informasi pribadi pengguna dengan fasilitas layanan. Pengguna boleh menggunakan layanan mereka tanpa dipungut bayaran, dengan imbalan semua data penggunaan menjadi milik perusahaan.

Sama seperti yang terjadi di LS. Telkomsel, sebagai perusahaan pemilik tempat, ‘menukar’ data pribadi skateboarder dengan fasilitas skatepark. Jadi skateboarder boleh menggunakan skatepark asalkan mereka memberikan data pribadi dan mau menggunakan gelang.

Lalu, apa yang membedakan mendaftar di LS dan social media?

Ketika mendaftarkan diri di social media, sangat jelas disampaikan bahwa tanpa mendaftar, calon pengguna tidak boleh menggunakan fasilitas yang disediakan. Hal ini ditemukan di skatepark lain, misalnya di Greenpark Anda harus membayar HTM, di TLL jaman dulu juga begitu (meski pada prakteknya seingat saya tidak ada yang membayar), di pasupati ya silahkan dipakai kecuali pemerintah setempat memutuskan skatepark boleh difungsikan selain jadi skatepark. Di LS, tidak diberikan aturan yang jelas.

Saya juga tidak perlu “mendaftarkan data pribadi” lagi setiap kali menggunakan layanan Google, saya tidak didatangi SPG Facebook yang sok asik setiap kali saya mau nge-post, dan saya tidak perlu menggunakan gelang setiap kali mau nge-tweet. Jika melihat eksekusinya yang mentah dan mengganggu kenyamanan, saya ragu Telkomsel memiliki strategi yang jelas untuk apa sebenarnya pengumpulan data pribadi di LS.

Yang tidak disadari teman-teman saya, mereka BOLEH menolak memberikan data. Tapi juga berarti mereka tidak boleh main skate di sana. Seperti beberapa teman saya di social media yang menolak ketika saya ajak menggunakan Google+, karena mereka tidak percaya Google dan tidak mau ‘memberikan data’ lebih banyak.

Buat sebagian besar orang di Indonesia, memberikan data pribadi itu lebih baik daripada membayar sebuah layanan dengan uang. Perilaku itu diketahui dengan baik oleh perusahaan berbasis teknologi, termasuk Telkomsel. Makanya mereka mau memberikan fasilitas gratis demi data pengguna. Tapi tanpa aturan yang jelas untuk mengumpulkan data pribadi pengguna, mereka tidak bisa menjamin kerahasiaannya dan bisa saja mereka menjualnya ke pihak ketiga atau melakukan hal-hal lain tanpa persetujuan pemilik data dan penggunaan-penggunaan lain yang tidak di otorisasi oleh pemilik data.

Meski itu praktek yang tidak tepat, saya tidak yakin akan ada perubahan di LS, karena menurut pengalaman perusahaan besar seperti Telkomsel sangat sulit mengubah peraturan dan tata cara. Sementara itu, landasan skatepark dari beton sudah mulai rusak di banyak spot, padahal fasilitas tersebut baru berumur 2 minggu. Nanti pada saat mereka mengubah cara, maka mungkin, skatepark sudah tidak skateable lagi. Jadi ya percuma.

Goodbye small skatepark in Loop Station, it was nice to skate you. Mudah-mudahan usaha beberapa teman saat ini untuk membuat skatepark baru yang tidak ditunggangi kepentingan orang tidak mengerti segera terlaksana.

One reply on “Mengapa Saya Tidak Akan Main Skate di Loop Station Lagi”

Leave a Reply to Kreativitas di Indonesia, Pelajaran dari Skateboarder Jerman | Robin Malau Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *