Categories
Thoughts

Catatan Dari Event Festival Congress di Cardiff

Festival-Congress

Orang yang menjalankan bisnis festival adalah orang yang mencintai kemanusiaan. Bagaimana tidak, mengapa mereka berusaha membuat ribuan orang bahagia sekaligus?

Begitu Jude Kelly OBE membuka keynote speech-nya di Festival Congress, setelah acara dibuka oleh para founder. Buat saya tweet di bawah ini mewakili perasaan yang hadir saat itu:

Betul. Saya menghabiskan dua hari yang tak terlupakan di Cardiff, ibukota Wales, untuk mengikuti event yang diselenggarakan oleh Asosiasi Festival Independen (AIF). Saya mengenal salah satu staff senior AIF, yang juga penggagas event yang dibuat untuk pengelola festival se-Britania Raya ini, ketika mengunjungi UK bersama British Council bulan Mei lalu. Lewat dia pula saya tahu event yang dihadiri oleh sekitar 350-an pengelola festival profesional. Event ini diadakan setelah pengelola festival melewati apa yang disebut “festival season” yaitu periode diantara bulan Mei hingga September, di mana semua festival musim panas dilaksanakan di periode tersebut. Sesama pengelola festival berkumpul untuk membahas isu strategis, permasalahan dan berbagi solusi, serta menambah kenalan. Acara ini adalah inisiatif pertama dari AIF. Mudah-mudahan akan berjalan terus dimasa depan.

Hari pertama

Dilaksanakan di BBC Hoddinott Hall, sebuah venue yang biasanya digunakan untuk tempat konser musik orkestra. Karena tempatnya sudah megah, maka set megah untuk konferensi ini tampaknya tidak sulit dibuat.

Festival-Congress-2

Sebelum konferensi dimulai, ada networking lunch dulu di restoran di dekat hall. Menunya sandwich berbagai rasa. Sambil makan, pengunjung berbincang satu sama lain. Sementara itu di sebuah sudut restoran, ada panggung kecil yang diisi penyanyi dengan set akustik. Ternyata dia adalah bagian dari sebuah booking agency yang bekerja sama dengan Festival Congress untuk mempromosikan artisnya. Harapannya ada pengelola festival yang tertarik mem-book mereka. Setelah lunch, satu persatu peserta berjalan menuju conference hall.

Kualitas panel sangat tinggi dan memiliki latar belakang pengetahuan yang beragam. Tapi semua semangatnya sama, yaitu bagaimana membuat industri festival menjadi sebuah industri yang sustainable. Isu yang dibahas, tentunya, adalah masalah seputar industri.

Beberapa highlight dari topik yang hangat dibicarakan adalah:
1. Dr. Emma Webster dari Live Music Exchange yang thesis PhD-nya adalah riset tentang industri live music di UK. Dia memberikan laporan riset dari festival-festival anggota AIF selama 6 tahun terakhir. Datanya diberikan dalam bentuk buku, saya punya 1 copy. Banyak informasi penting yang bisa menjadi acuan pelaku industri live music yang hendak bekerjasama dengan festival di UK.

2. UK Music, yang merupakan payung dari asosiasi dagang musik di Britania Raya melalui Tom Kiehl, Director of Government & Public Affairs, memberikan laporan dampak ekonomi yang diberikan industri live music di UK. Karena digarap dengan sangat serius, hasilnya spektakuler. Sepanjang tahun 2013, ada 6,5 juta orang yang menjadi turis musik dan memberikan kontribusi ekonomis sebesar £2,2 milyar. Sempat ngobrol dengan Tom sesudah keynote-nya, dia juga ingin melibatkan saya dalam riset selanjutnya. Yay!

3. Di sana juga banyak kisah menarik tentang si kecil lawan si besar. Dalam hal ini, si kecil adalah festival independen, melawan si besar yaitu Live Nation. Banyak festival besar di UK, termasuk Download Festival dan Leeds Festival, sudah diakuisisi Live Nation. Salah satu masalah yang timbul adalah artist exclusivity dan dibahas oleh diskusi panel yang berjudul sama. Jadi, artis atau headliner yang manggung di festival Live Nation biasanya tidak boleh lagi mengadakan show di wilayah tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dan biasanya artis nurut dengan keinginan Live Nation, karena mereka sangat powerful di Eropa. Mengikuti diskusi tersebut, tampaknya belum ada solusi untuk konflik ini. Setelah diskusi panel, saya bertanya kepada Alison Wenham, CEO dari AIM (asosiasi dagang perusahaan musik independen di UK) yang kebetulan duduk di sebelah saya, tentang konflik ini. Saya tahu Alison adalah juga Founding Chairman dari WIN (Worldwide Independent Network, yang membawahi 25 organisasi seperti AIM di seluruh dunia), yang membawa kasus YouTube vs Independent Labels ke European Union. Alison menjelaskan bahwa secara legal, perusahaan diperkenankan memiliki power sebesar Live Nation. Yang tidak diperbolehkan adalah menyalahgunakan kekuatan tersebut, seperti yang dilakukan oleh Google/YouTube kepada independen label.

4. Edwina Hart MBE CStJ AM, Mentri Ekonomi, Ilmu Pengetahuan dan Transportasi Wales, ikut memberikan keynote. Dia tampak tidak cangguh dan meladeni guyonan yang cenderung kasar dari pembicara sebelumnya. Saya baru tahu di konferensi hari kedua, ternyata Festival Congress diadakan di Wales juga karena lobi pemerintah setempat. Agat bisa memperkenalkan Wales kepada pengelola festival dari seluruh UK (dan beberapa negara dari Eropa).

Hari pertama selesai sekitar jam 6 sore, dan dilanjut dengan pesta dan pemberian award di bar. Saya tidak ikut karena sudah terlalu letih dan butuh tenaga lebih karena keesokan harinya saya harus kembali ke London untuk mengejar konser In Flames.

Hari kedua

Dimulai agak siang, dan dibuka oleh salah satu tokoh musik Wales yang memperkenalkan industri musik Wales kepada peserta konferensi. Saya baru tahu kalau Manic Street Preachers, Stereophonics dan Super Furry Animals adalah musisi tingkat dunia yang berasal dari Wales. Ada juga Funeral for a Friend, Bullet for My Valentine serta salah satu personil grup elektronik Underworld juga berasal dari sana. Senang rasanya melihat negara sekecil Wales bisa mengekspor begitu banyak musisi pop dan rock.

Setelah sesi pertama, ada presentasi yang meski terdengar sangat membosankan, sangat berguna buat saya. Yaitu presentasi dari Yourope tentang standar kontrak pengelola festival dengan artis. Satu persatu pasal diterangkan, dari mulai standar pembayaran, pembatalan, security, sampai kesulitan-kesulitan berurusan dengan agent yang punya model bisnis sendiri-sendiri. Kebayang ruwetnya mengurusi kontrak di industri ini. Ini juga presentasi terakhir yang saya ikuti, karena saya harus meninggalkan Cardiff menuju London.

Pelajaran penting

Mengikuti event Festival Congress adalah kesempatan mendapat kenalan baru. Kuncinya, sejak sebelum event dimulai, saya sudah harus tahu ingin bertemu dan berkenalan dengan siapa. Dalam kasus saya, kebetulan semuanya anggota panel. Setiap ada break, saya langsung menghampiri mereka, berkenalan, meminta bertukar kartu nama, dan menjelaskan maksud dan tujuan saya datang ke sana. Sejauh ini 100% dari mereka antusias mendengarkan ide bisnis dan peluang bekerjasama, jika relevan dengan mereka. Ini juga perbedaan signifikan acara networking di negara maju dengan Indonesia. Di sana mereka lebih antusias menyambut peluang baru. Dimana akhirnya, biaya yang dikeluarkan untuk menghadiri event sejenis di negara maju (seperti juga Techcrunch Disrupt), adalah investasi yang bisa berbuah manis di masa depan.

Beberapa foto dokumentasi:

Menu makan siang
Menu makan siang
Suasana networking lunch
Suasana networking lunch
Salah satu artis yang ikut showcase di acara makan siang
Salah satu artis yang ikut showcase di acara makan siang
Artist showcase di antara panel keynote
Artist showcase di antara panel keynote

Let's rock! \m/

A photo posted by Robin Malau (@lowrobb) on

Day 2 Festival Congress.

A photo posted by Robin Malau (@lowrobb) on

Lawyer-nya Glastonbury menerangkan standard Terms untuk festival di UK.

A photo posted by Robin Malau (@lowrobb) on

Kurator dari Exit Festival, Knockengorroch, Glastonbury dan Bestival sharing (sambil hangover).

A photo posted by Robin Malau (@lowrobb) on

4 replies on “Catatan Dari Event Festival Congress di Cardiff”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *