Categories
In The Media

The Richest Underground Band in Indonesia

RIPPLE INTERVIEW

Apa yang membuat anda bertahan di scene musik, padahal mungkin waktu kerja di Volcom bisa menjanjikan?
Saya ngga bisa yang lain, saya cuma bisa bermusik. Jadi satu-satunya pilihan adalah bertahan disini. Being an employee memang bisa menjanjikan, tapi menurut saya, hanya dalam jangka pendek. Sejak bekerja di perusahaan besar, saya jadi tahu bahwa saya memang ngga bisa kerja di tempat orang lain, saya harus bekerja pada diri saya sendiri. Dan disitulah tempat paling ideal dimana saya bisa mengembangkan diri saya sendiri. It’s super important. Hidup kan harus maju, dan caranya, dia sendiri yang paling tahu kan?

Saya memiliki beberapa gagasan unik yang ngga bisa saya kerjakan saat saya bekerja di tempat lain, kemudian saya melihat peluang di depan mata. Setelah menemukan saat yang tepat, saya memfokuskan diri untuk menggarap gagasan saya agar menjadi kenyataan dengan menggunakan peluang-peluang yang ada. It’s really hard, to start on your own, tapi menyenangkan. Sungguh menyenangkan. Saya merasa hidup, sama rasanya seperti main band dulu.

Don’t get me wrong, kalo ngga pernah kerja di Volcom, mungkin saya ngga akan pernah seyakin sekarang. Volcom itu kumpulan pemimpi yang bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya. They had supported and taught me a lot up to this day & i think Volcom is the best company in its industry!

Selama 10 tahun di Puppen dan band lainnya, apa yang anda dapat?
Banyak, tapi yang tersisa adalah sebuah PR besar yang membuat saya ngga pernah bisa tidur nyenyak. Saya rasa yang membatasi ruang gerak musisi sejenis saya ya teman-teman dan kaum saya sendiri. Saya ingin merubah pemikiran saya dan teman-teman saya. Saya percaya, dengan mindset yang lebih kreatif dalam mengembangkan alternatif dan ditambah sedikit kecerdasan berhitung untuk menyusun serta melaksanakan strategi, band potensial seperti Puppen bisa berbuat lebih banyak.

Puppen itu terjebak perangkap tikus. Ngga bisa kemana-mana karena bandnya yang membatasinya sendiri. Saya inget banget, dulu ada kata-kata seperti ini di website Puppen, ’Hey Puppen! Awas kalo lu jadi band komersil. Kalau mau jadi band komersil, jadi Sheila On 7 aja!’’. Puppen live and die with that statement. I am no believer, jadi saya teruskan mengejar visi saya. Awalnya saya merasa sendiri, tetapi semakin kesini semakin banyak teman yang percaya dan mendukung saya.

Apakah anda percaya musik cutting edge di Indonesia bisa diterima sebanyak massa Sheila on 7/Padi dan bisa jadi lahan untuk hidup lebih mapan seperti halnya band-band cutting edge di luar negeri sana?
Ada pakem; band yang bagus adalah band yang bisa menjual 1 juta keping. Saya rasa wacana ini ngga bisa di-generalisir. Itu bisa menjadi ukuran yang menyesatkan untuk band. Well, kalau bicara musik cutting edge, saya pribadi lebih percaya dengan konsep pengembangan. Ilustrasi sederhananya; misalnya album pertama hanya bisa jualan 1.000 keping, kemudian album kedua 5.000, album ketiga harus bisa terjual 10.000 dan seterusnya. Nah, yang diperlukan adalah manajemen perkembangan. Hasilnya, kalo bandnya memang berbakat, mau mainin jenis musik apapun, band itu pasti tumbuh. Tumbuh kepribadiannya, skillnya dan pasarnya. Akhirnya kan bukan ngga mungkin bisa mencapai penjualan jutaan keping seperti Sheila On 7 atau Padi. Jadi, menurut saya, seharusnya semuanya bisa berjalan ke depan sesuai dengan bakat dan kemampuan band, organisasi pendukungnya serta daya serap pasarnya. Konsep seperti itu lebih nyata buat saya. Keuntungan lain, life cycle band juga jadi lebih panjang, jadi mereka sempat punya waktu untuk berkembang.

Memang banyak orang ngawur di industri musik. Orang ngga tau musik, ngga suka musik tapi mau jualan musik, ya mana bisa? Lebih parah lagi, sebagian besar dari mereka itu ngga punya sense of entrepreneurship dan ngga fokus sama bisnisnya. Mereka cuma jualan apa yang mereka buat saja. Padahal kalo memang pedagang sih seharusnya mereka ya menjual apa aja yang bisa mereka jual. Kalo musik cutting edge memang laku, ya jual saja, kenapa musti ngga mau segala?

Nah, sekarang yang jadi masalah adalah kapan band tadi bisa sampai ke level ‘bisa memenuhi kebutuhan hidup’. Ya itu dia, saya percaya sama konsep bakat dan pengembangan tadi. Pada akhirnya, kapan dan berhasil ngga berhasilnya ya tergantung kita sendiri. Yang pasti usaha-usaha menuju ke situ harus mulai dilakukan dari sekarang, bukan besok bukan minggu depan, karena kita sudah jauh ketinggalan.

Jadi, sebenarnya dari dulu saya percaya, tapi percuma kalau cuma saya sendiri yang percaya. Sekarang, orang Indonesia sudah semakin pintar, jadi jangan ngomong musik seperti itu ngga ada pasarnya. Pasar musik seperti sudah itu ada, pelaku industrinya (band & indutrialis) aja yang ngga konsisten, ngga bisa melihat peluang dan ngga becus kerjanya! In a meanwhile, Puppen melakukan konser reuni dan dibayar puluhan juta untuk 1 kali manggung. Tahu berapa gaji karyawan level manager senior bergelar MBA di perusahaan besar untuk bekerja sebulan penuh? Hanya ¼ dari penghasilan anak Puppen. Jadi, kenapa saya musti ngga percaya?

Tujuan anda membangun Soda Music?
Saya selalu mimpi punya bisnis sendiri, selain itu saya ada PR yang harus saya kerjakan. Saya ngga mau Soda Music hanya jadi sekedar ‘another new thing in underground music’. Dengan support dari teman-teman dan sedikit pengetahuan manajemen perusahaan, saya bangun usaha sendiri untuk mengejar impian saya.

Orang suka bikin asumsi, bahwa kalo dia punya ide, dia sudah hebat dan berhasil. Padahal itu baru tahap awal saja. Menurut saya, ide itu harus action oriented. Jadi, saya lihat peluangnya, kemudian saya cari ide yang bisa saya kerjain untuk merubah peluang tersebut menjadi sesuatu yang menguntungkan. Dan dari dulu, kalau saya punya mimpi, saya akan kejar sampai mimpi itu terwujud.

Saya punya pengalaman pribadi menjadi musisi rock dan dari dulu saya melihat sudah ada musisi rock yang potensial di Indonesia. Tapi ngga banyak yang bisa ketahuan sama orang banyak dan menjual banyak album rekaman. Yang pertama, band tersebut harus berbakat dan cukup pandai dan peka terhadap suasana. Setelah itu, harus ada fungsi-fungsi yang harus berjalan untuk mendukung band rock menjadi sebuah bisnis. Itu visi dan bentuk pelayanan Soda Music. Saya harus ikut mendukung musik rock menapaki level berikutnya di Indonesia. Mungkin, nanti saya bisa tidur lebih tenang.

Sebenernya apa yang anda impikan/harapkan dari scene musik di Indonesia?
Wah, saya ngga bisa mengharapkan apa-apa dari apa yang saya lihat sekarang. Para prinsipal industri musik itu sudah terlalu gemuk. Mereka jadi lamban dan seringkali kehilangan fokus. Perlu banyak approach baru atau mungkin revolusi untuk bisa menembus masuk dan menjadi pemain yang tidak dirugikan terlalu banyak. Tapi pada dasarnya, saya tidak mau berharap dari orang lain, malah saya ingin orang lain yang berharap dari saya. Ya, somehow, we should make it on our own!

Nama : Robin Ch. F. Malau
Hobi : Baca, skate & music merchandise collection
Pendidikan : Strata 2 – Magister Management Kewirausahaan dan Pengembangan Bisnis Kecil, Universitas Padjajaran, Bandung
Filosofi : What other people say about me is not my business, i always glad for what i have done!
Idols : Dr. Ir. Malau, DEA. (bapak saya)

This interview was conducted by Ripple magazine, originally published in descriptive format.

12 replies on “The Richest Underground Band in Indonesia”

Ya Music Itu Jiwa Yg Berbicara Walaupun Tidak Setenar Padi, Sheila On 7, dan Dewa. Tapi Tetap Berbekas di Setiap Orang Yang Mendengarkan

PUP’S NEWS
tunggu aja enchanced cd pup bakal rilis tahun 2001,
ada dokument pup yang belum eprnah ada yang liris dibelahan bumi manapun,
termasuk yang paling sangar sekalipun yakni cicadas!

saya inget pisan, saya tunggu-tunggu dulu.. sampe dateng ke reverse..
realisasi om..

puppen is dead but the legacy lives on kan ? hehe..

Perkembangan sosial dan teknologi waktu itu sudah terlalu cepat buat kami sehingga tidak relevan lagi untuk rilis CD, jadi sori kalo kesannya bohong. Kalau kamu mau CD Puppen sekarang, kan tinggal download .mp3 nya di internet terus buat CD sendiri?

kang robin saya pecinta berat PUPPEN
saya ke pengen baju nya PUPPEN
truus stok baju PUPPEN masihada gga sih..
makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *