Categories
download festival 2013

Mengenang Download Festival 2013 – The Show

Robin Malau at Download Fest 2013

Artikel ini adalah lanjutan dari bagian 1. Jika di bagian 1 saya bercerita tentang persiapan hingga tiba di Download Festival, di bagian ini saya ingin bercerita tentang show yang saya tonton di festival heavy metal terbesar di dunia tersebut.

The Show, Hari Pertama

Baru saja merasa cukup mengenal wilayah Arena, tahu-tahu show di Main Stage sudah dimulai. Band pertama adalah Rise To Remain. Saya pernah nonton band ini waktu mereka jadi opening act Iron Maiden di GWK Bali, beberapa tahun yang lalu. Tapi saya tidak suka lagunya. Gempita Main Stage-lah yang membuat saya terkesima dan akhirnya nonton penampilan band ini. Maklum masih culture shock. Dalam hati saya berkata sambil merasa girang luar biasa “WAH MULAI NIH DOWNLOAD FESTIVAL!”.

Setelah nonton beberapa lagu saya dan Vicky merasa cukup, kemudian berjalan berlawanan arah dari Main Stage, untuk antri di tenda Trooper, bir resmi Iron Maiden. Dari hari pertama hingga hari ketiga, antrian paling panjang selain official merchandise booth ya selalu di tenda ini.

Tenda Trooper

Siang itu cuaca sangat tidak jelas. Bisa hujan 5 menit, kemudian berubah jadi panas terik 5 menit kemudian, dan kembali hujan. Karena merasa butuh, kami berduapun membeli ponco plastik untuk melindungi badan agar tidak basah. Hari masih sangat panjang, kami tidak mau menjalani sisa hari dengan pakaian basah kuyup karena pasti tidak nyaman. Selain itu jika basah, udara dingin akan terasa lebih menusuk tubuh. Entah bagaimana akhirnya, kami bertemu juga dengan Ebenk dan Agung, dan bersama sepakat untuk bertemu di belakang LCD raksasa di seberang Main Stage setiap kali kami berempat terpisah.

Setelah makan siang, sekitar jam 2 kami kembali ke tenda untuk beristirahat sejenak. Kaki pegal karena kawasan yang licin tak rata dan kami tidak bersepatu boots. Ini menambah beban dan ketidaknyamanan.

Setelah meluruskan kaki sekitar 1 jam, kami berempat kembali ke wilayah Main Stage. Sesampainya di sana, Papa Roach sedang manggung. Great, kami belum terlambat, karena kami memang bukan mau nonton mereka. Sambil nyanyi-nyanyi kecil, kami menuju ke arah bar untuk membeli cider.

Sekembalinya, panggung sudah kosong, dan backdrop band berikutnya sudah naik… Down. We’re going to watch fucking Down!

Down di Download Festival 2013. Foto: Gogeng.
Down di Download Festival 2013. Foto: Gogeng.

Show dimulai setelah sekitar 1 jam stage set up… Boom! Philip Anselmo keluar dari backstage. The crowd went berserk. Yang paling happy dari kami berempat adalah Vicky. Dia tidak berhenti bernyanyi mengikuti lirik dari lagu ke lagu. Satu kesan yang saya dapatkan dari nonton Phil Anselmo adalah, he belongs to Pantera. Sedih rasanya jika mengingat saya tidak akan pernah menonton band metal legendaris asal Texas tersebut. Tapi ngga apa-apa, Down was cool too! \m/

Usai Down, backdrop band berikutnya pun naik… Korn.

Korn di Download Festival 2013. Foto: Gogeng.
Korn di Download Festival 2013. Foto: Gogeng.

Saya fans berat Korn sampai album “Follow The Leader”, jadi saya sangat berharap mereka akan membawakan beberapa lagu klasik. Setelah persiapan sekitar 1 jam, tiba-tiba penonton di wilayah depan bergemuruh dan beberapa detik kemudian intro lagu “Blind” dimulai. I lose my mind. Totally lose my mind. Show ini merupakan bagian dari rangkaian tur reuni dengan Brian ‘Head’ Welch. Jadi, tak lengkap jika band legenda new metal ini tidak membawakan lagu klasik. Setelah Blind, konser dilanjut dengan “Twist” dari album Life Is Peachy dan “Falling Away From Me”. Semua lagu klasik. Saya merasa reuni, mendengarkan lagu Korn sambil takjub. Formasi ini memang tanpa David Silveria, drummer orisinil, tapi mereka tampil sangat prima. Produksi sound terdengar hingga detil, rythm section sangat in-your-face sehingga beat signature Korn berhasil di replika dengan sangat baik. Fieldy was super awesome, dan double guitar Brian dan Munky was seamsless tanpa cacat. Jonathan Davis pun tampil sangat prima. Tua-tua keladi. Show ditutup dengan “Got The Life” dan “Freak on a Leash”. All Korn fans won’t disagree. It was an excellent show.

Setelah Korn, tampil Bullet For My Valentine di Main Stage. Tapi bersamaan, Converge manggung di 3rd stage, dan kami memilih kesana. Jarak kedua panggung sekitar 800 meter. Karena di dalam tenda tidak boleh merokok, saya menonton dari luar sambil merokok.

Saat itu sudah jam 8 malam, tapi langit masih terang, pas banget keadaannya untuk sebuah festival musik musim panas. Karena siang sangat panjang. Kami kembali ke tenda untuk makan malam dan istirahat sejenak sebelum nonton headliners hari pertama, HIM di Pepsi Max Stage (atau 3rd stage) dan Slipknot di Main Stage. Rencananya begini, saya akan ke Main Stage dulu untuk nonton intro Slipknot. Di beberapa video live yang saya pernah tonton, intro show Slipknot selalu spektakuler, dibanding dengan HIM. Setelah beberapa lagu saya akan pindah nonton HIM.

Sounds like a plan!

Ketika berjalan kembali ke arena, sayup-sayup terdengar intro “All Lips Go Blue” sudah bergema di tenda Pepsi Max Stage, tempat HIM manggung. Wah, kacau. Ga bakal sempat ke Main Stage karena tampaknya intro Slipknot pun sudah dimulai. Sambil lari tunggang langgang saya sempat menengok ke belakang ke arah ketiga mahluk itu dan bertanya, “Kalian nonton Slipknot?”. Ketiganya mengangguk serempak.

Saya tidak melanjutkan pembicaraan lagi dan langsung masuk dan berbaur dengan sekitar 1500-an penonton di tenda besar berwarna biru yang terletak persis di sebelah kiri pintu masuk. Setelah lagu pertama selesai, saya akhirnya berhasil menemukan tempat tepat berseberangan dengan panggung, sehingga produksi sound terdengar lebih balance. Dan saat itu pula lah saya, sebagai seseorang yang mencintai sound gitar rock, terkesima. Sound gitar Linde terasa lebar, berdaging tebal, sekaligus crisp dan in your face.

2 lagu berlalu yaitu “Buried Alive By Love” dan “Rip Out the Wings of a Butterfly”, saya mencoba memahami dan mendalami situasi. Tiba-tiba saya mengerti mengapa band rock paling sukses dari Finlandia ini menyebut dirinya Love Metal. Instrumen drum, bass dan gitar terdengar bergemuruh. Diatas gemuruh tak henti, menari-nari melodi keyboard yang sederhana namun apik bersahutan dengan vokal dan lirik Ville Valo tentang cinta dan kematian. Got it. That’s what Love Metal is. Maaf, tapi jika kamu fan HIM, kamu belum mengerti sebelum nonton mereka manggung langsung. Saya beberapa kali nonton DVD maupun bootleg HIM live di YouTube. Baik club shows, theater, arena maupun festival. Tapi suasana live-nya tidak pernah bisa saya bayangkan sampai saya nonton sendiri. It was beautiful. Superbly beautiful.

HIM di Download Festival 2013
HIM di Download Festival 2013

Di lagu ke 7, “Join Me in Death”, tiba-tiba Ebenk muncul. Saya langsung bertanya, “Gimana Slipknot?”. “Anjing… Galak banget” jawab Ebenk. Kemudian saya melihat kearah Main Stage, dan terlihat lampu di atap panggung yang berkelip tiada henti. Saya mulai gak konsen. Saya berpikir dan berkata dalam hati. “Fuck. Gue gak mau nyesel nanti karena gak nonton Slipknot”. Akhirnya usai lagu ke 10, “Tears On Tape”, saya lari terbirit-birit ke Main Stage.

Sesampainya disana, show sedang break karena dihentikan Corey Taylor. Ternyata barikade depan panggung jebol (untuk kedua kalinya), dan penonton barisan depan terancam terinjak-injak. Saya tahu itu karena Corey berteriak “I don’t want anyone get hurt in Slipknot show. Fucking fix the barricade!”. Salut untuk organizer dan penonton, barikade bisa rapih kembali hanya dalam waktu kurang lebih 10 menit. Dan show pun berlanjut dengan lagu “Left Behind”.

Slipknot Download 2013

Beberapa lagu lewat, hujan turun lumayan deras. Tapi penonton tampak tak perduli. Saya sendiri tidak perduli. Fuck rain, I’m watching Slipknot. Akhirnya setelah lagu “Psychosocial, “Duality” dan “Spit It Out”, show berhenti sejenak untuk encore. Di kesempatan ini saya berjalan sedikit ke muka, agar bisa berada persis di tengah PA system untuk mendapat sound yang lebih baik. Band kembali naik panggung, dan memulai kembali show dengan lagu… “(sic)”. Biasanya lagu ini jadi intro show, kali ini tidak. Jadi saya seperti merasa kebagian bagian intro Slipknot di Download Festival YEAH! Berurutan setelahnya “People=Shit” dan “Surfacing”.

Haripun berakhir dan kami kembali ke tenda. Tak lama, kami tertidur karena tidak ada lagi tenaga yang tersisa. Hari pertama… POL!

The Show, Hari Kedua

Seperti hari sebelumnya, saya bangun pagi sekali. Dalam hati, “Wow. Saya bangun tidur di tengah Download Festival!”. Setelah minum kopi, saya pergi ke shower sekitar pukul 6 pagi. Salah satu trik agar bisa mandi tenang adalah mandi sepagi mungkin, karena jam 8 ke atas antrian shower sudah panjang sekali. Setelah mandi, badan terasa lebih segar, tapi pegal-pegal. Pagi itu tidak ada yang istimewa, saya hanya melihat jadwal festival dan ngetweet:

Life’s good!

Seperti hari pertama, arena dipenuhi oleh fans dari headliners. Di hari pertama banyak sekali orang berkostum Slipknot, sementara hari kedua arena festival lebih seperti galeri raksasa t-shirt Iron Maiden. Sebut 1 model t-shirt, pasti ada yang pakai.

Vicky dan Fans Slipknot di Hari Pertama Download Festival 2013
Vicky dan Fans Slipknot di Hari Pertama Download Festival 2013

Buat kami hari ini adalah hari belanja. Setelah pintu arena dibuka jam 12 siang seperti hari sebelumnya, kami menghabiskan waktu untuk jalan-jalan mencari merchandise. Tak disangka kami menemukan skate shop tepat di seberang Jagermeister stage. T-shirt merk Emerica, Etnies, Enjoi dan banyak lagi sedang di sale. Setelah membeli beberapa t-shirt dan hoodie tebal (oh betapa bahagianya nemu hoodie yang bisa menghangatkan tubuh), kami bergegas ke Main Stage, karena disana sudah menunggu… Mastodon.

Waktu itu setengah tiga siang dan cuaca cukup cerah. Penampilan Mastodon siang itu menarik, secara audio banyak yang bisa didengar: produksi sound bagus banget. Tapi secara visual, hampir tidak ada yang bisa dinikmati kecuali melihat hampir setiap lagu mereka ganti gitar, dan semua gitarnya bagus! 😀

Setelah berdiri sekitar 50 menit nonton, kamipun mencari makan siang dan melanjutkan jalan-jalan di seputar arena untuk belanja. Beberapa t-shirt kemudian, kami beristirahat di tenda. Badan letih luar biasa, kami harus menyisakan tenaga untuk Motörhead yang akan manggung jam 5 sore.

Merasa cukup beristirahat, kami pun berjalan kembali ke arena. Di Main Stage, backdrop Motörhead sudah dinaikkan. Merinding melihatnya.

Tak lama Mikkey Dee naik panggung dan duduk di belakang set drum nya, disusul Phil Campbell dan terakhir Lemmy himself! Show dibuka dengan Lemmy mengenalkan diri, “We are Motörhead, and we play rock and roll!” langsung disusul dengan lagu “I Know How to Die”, penonton berantakan! Hari itu Motörhead membawakan 13 lagu dan ditutup dengan “Ace of Spades” dan “Overkill”. Sepanjang show saya hanya melihat ke atas panggung, terkesima dan tak percaya, saya nonton Motörhead.

Setelah Motörhead saya ke lokasi bar untuk beli cider dan nonton Jimmy Eat World di Zippo Stage. Penampilan mereka sedikit berbeda dari yang terakhir saya lihat. Sore itu, mereka manggung dengan setelan hitam-hitam dan berpenampilan elegan. Show dibuka dengan “I Will Steal You Back”. Mereka juga membawakan beberapa lagu klasik seperti “A Praise Chorus”, “Get It Faster”, “Bleed American” dan “Futures”.

Di tengah konser JEW, sayup-sayup terdengar lagu dari Main Stage. Saya yang memang berniat untuk nonton JEW setengah dan kembali ke main stage. Saya pun bergegas meninggalkan 2nd stage dan show Queens of the Stone Age (QOTSA) sudah mulai dengan lagu “Feel Good Hit of the Summer”. Muka Josh Homme sang bassist & vocalist terpampang dengan jelas di giant LCD. Whoah… Seakan terhipnotis saya lanjut berjalan ke arah panggung sambil bawa gelas cider. Dari mulai pertama kali melihat Main Stage, hingga sampai ke dekat FOH, QOTSA sudah menyelesaikan lagu ke 2 “You Think I Ain’t Worth a Dollar, but I Feel Like a Millionaire” dan sudah memainkan setengah lagu dari lagu ke 3 “Sick, Sick, Sick”. Jaraknya jauh banget. Sinting ini orang banyak banget!

Show QOTSA ditutup dengan “My God Is the Sun”, “Go With the Flow”, dan “A Song for the Dead”.

“Scream For Me Downloaaaaaaaddddd!”

Sekarang tiba saatnya headliner hari kedua, Iron Maiden!

Panggung terlihat sibuk. Setelah tim teknisi QOTSA menurunkan alat, tampak tim Iron Maiden mempersiapkan peralatan. Karena masih ada waktu, saya meninggalkan daerah panggung dan makan malam di booth Chinese Food. Selesai makan, saya mampir ke bar sebentar dan kembali ke Main Stage untuk menunggu di sana. Saya menunggu sendirian, karena terpisah dari Ebenk, Vicky dan Agung saat saya nonton QOTSA.

Menit demi menit berlalu. Setiap ada sesuatu di panggung, pasti langsung disambut sorakan penonton. LCD menyala, disoraki. Ada suara bass drum, disoraki. Suasana sangat resah. Terasa sekali penonton sudah tidak sabar menunggu band kebanggan anak metal Inggris itu naik panggung. Di tengah keresahan, ada suara gemuruh pesawat dari jauh, datang dari arah belakang panggung. Karena penonton menghadap ke arah panggung, tentunya semua melihat apa yang sedang terjadi… tampak sebuah pesawat terbang rendah menuju ke arah penonton. Saya nggak ngeuh itu apa, sampai pesawat tersebut melewati kepala saya.

“Wow, barusan pesawat tempur lewat”, begitu saya berkata dalam hati. Tahu-tahu Ebenk sudah berdiri di sebelah saya. Saya sambut dengan tos lima jari. Berdua langsung terlibat percakapan soal pesawat tempur. Ebenk bilang, “Gila. Ini kan konser band. Sampe ada pesawat segala”. Di situ saya baru ngeuh, “Oh barusan bagian dari show? Damn!” Sekonyong-konyong pesawat tadi lewat lagi. Vrooooooooommmmm… Disambut sorak-sorai penonton yang menyambut dengan mengacungkan Devil Horns. Tiba-tiba terdengar ledakan keras dari arah panggung dan semua personil Iron Maiden sudah ada di panggung dan memainkan lagu pertama “Moonchild”. Penonton luluh lantak!

Lagu demi lagu lewat, semua lagu klasik! Malam itu mereka memainkan “Can I Play with Madness”, “2 Minutes to Midnight”, “The Trooper”, “The Number of the Beast”, “Phantom of the Opera”, “Run to the Hills”, “Wasted Years”, dan “Seventh Son of a Seventh Son”, “Fear of the Dark”. Kemudian encore, sebelum personil naik terdengar pidato Winston Churchill bergema dari PA System, kemudian disusul dengan “Aces High”, “The Evil Than Men Do”.

Sebelum show berakhir, saya kebelet ingin buang air karena kedinginan. Udara malam itu dingin banget, mungkin karena siangnya panas, jadi dinginnya lebih terasa. Saya mencoba mengingat dimana lokasi toilet umum. Ah, ada tapi agak jauh di dekat Zippo Stage, atau di dekat Jaggermeister Stage. Tapi jika saya kesana, saya pasti kena antri bubaran penonton. Hari ini rasanya penonton lebih banyak dari hari Jumat. Terutama di Main Stage. Maka dari itu saya mengurungkan niat untuk ke toilet umum, tapi lebih baik langsung ke tenda. Di sana toilet umumnya juga lebih nyaman. Karena tidak tahan lagi, saya bergegas jalan menuju tenda. Dari FOH, saya berjalan menanjak melewati penonton yang sedang nonton Iron Maiden. Entah karena saya sedang kebelet atau bagaimana, perjalanan rasanya lamaaaaaa banget. Karena orang yang saya lewati tidak habis-habis.

Karena ya… Karena saya harus berjalan melewati kerumunan sebanyak ini:

Penonton Download Festival 2013 di Iron Maiden stage
Penonton Download Festival 2013 di Iron Maiden stage
Suasana Aman dan Tentram

Sesampai di tenda, dalam keadaan letih, saya menemukan tenda depan yang berantakan. Saking berantakannya, ditambah suasana yang gelap, saya sampai-sampai tidak mengenali tenda sendiri. Saya jalan menjauh mencoba mengingat lokasi tenda di tengah gelap dan tenda-tenda lain. Saya merasa melihat tenda yang kami tempati, tapi bentuknya sedikit berbeda dari yang kami tinggalkan sore tadi. Kemudian mencoba mencari tenda Vicky dan Agung yang ada di depan tenda saya dan Ebenk. Akhirnya nemu, kemudian saya melihat ke seberang, ada tenda, tapi kok bentuknya beda? Meski ragu, saya coba untuk melihat dari jarak lebih dekat, dan ternyata saya mengenali beberapa barang yang berserakan di depan tenda. “Ah bener, ini tenda gue”, dalam hati saya berkata. Saya buka pintu tenda (dari risleting) dan BOOM… Ada orang di dalam tenda sedang tidur dengan nyenyak. Saya jadi ragu lagi dan ngomong sendiri, “Bener ya ini tenda gue?”. Tapi kemudian saya mengenali travel bag yang terlihat di ujung tenda. “Iya bener, itu travel bag gue”. Baru nyadar, “Lah… Ini orang ngapain tidur di sini?”. Ternyata ada orang yang sudah terlalu mabuk, dan salah tenda. Dia pikir dia sedang tidur di tendanya.

Tak lama Ebenk, Vicky dan Agung datang. Tampang mereka sumringah. Tentu, anak metal mana yang baru nonton Iron Maiden di Download Festival mukanya cemberut? Saya beritahu Ebenk, “Beng, ada orang tidur di tenda kita”. Terus ekspresi Ebenk kaget, “Wah kok bisa?”. Lantas Ebenk masuk tenda, dan coba membangunkan orang itu dengan berkata, “Dude. You sleep at the wrong tent. Dude! Dude!” sambil menggoyang-goyangkan badannya. Si orang malah menjawab, “It’s ok dude!”

Hahaha. What do you mean “it’s ok”?

Dom datang dari Arena. Kemudian saya bilang ada orang asing yang tidur di tenda kita. Dom hanya merespon dengan mengangkat bahu. Kami pun tertawa.

Setelah merasa usaha membangunkan gagal, Ebenk pun menyerah. Kemudian kami berdiri di depan tenda sambil mikir. Tahu-tahu teman baru kami, orang Inggris dari tenda sebelah, baru kembali dari Arena. Dan menepuk-nepuk dadanya sambil berkata, “Maiden man! Front row! Fucking front row!”. Orang ini sangat bangga nonton Iron Maiden dan berdiri di bagian paling depan. Saya langsung nanya, “What’s with the firefighter plane?”. “Oh, it’s the Spitfire firefighter from the World War 2. There’s only several left…” Ungkapnya. “We beat the Germans with that!”, kemudian menepuk dadanya lagi, “English pride!”. Dia berhenti bicara dan tertunduk selama beberapa detik, kemudian melanjutkan, “But tomorrow the Germans will headline a metal festival in UK. Oh… How time changes…” katanya disambut gelak tawa. Kemudian dia mengundang kami untuk menikmati api unggun di depan tendanya. Saya jawab, “Yeah maybe later. But a stranger is sleeping in our tent”. Saya berharap dia akan memberi solusi yang saya harapkan, yaitu menemukan cara untuk mengeluarkan orang itu dari tenda. Dia malah menjawab, “Fuck it dude. You can sleep in my tent!”, katanya sambil berlalu.

Saya baru ngeuh perbedaan cara pandang kami dengan 2 orang Inggris ini. Saya merasa takut, orang yang tidur di tenda akan mencuri barang (karena belanjaan kami banyak banget, apalagi belanjaan Ebenk! :p). Karena itu yang biasanya terjadi di Indonesia. Tapi tidak di festival di UK, apalagi di lokasi tenda kami, di VIP & Guest. Tidak ada orang yang berniat datang untuk mencuri barang. Dan dalam suasana pesta di sana, siapa saja bisa tidur di mana saja tanpa khawatir barang hilang.

Kemudian Ebenk dan Dom meninggalkan tenda untuk bertemu dengan beberapa tamu VIP di lokasi arena. Saya pun memanggil security untuk membantu saya membangunkan orang nyasar itu.

Hari Terakhir

Kami sudah resah di hari ini, karena sejak awal kami memang tidak bersiap untuk ke Inggris untuk langsung berkemah nonton festival. Kami ingin kembali ke London, karena sebenarnya prioritas buat Burgerkill adalah menghadiri Golden Gods yang dilaksanakan hari Senin, sesudah Download. Jangan sampai terlalu capai. Kami mencoba mencari kendaraan ke London. Tapi akhirnya menyerah, karena ternyata harga tiket kereta dan bis sangat mahal. “Ya sudah. Nikmati saja hari terakhir di sini”, begitu kurang lebih kami berpikir. Setelah melihat daftar band yang akan manggung hari itu, saya pun menetapkan rencana. Hari itu saya ingin nonton Coal Chamber, Stone Sour dan Rammstein di Main Stage; kemudian Ghost dan Limp Bizkit di 2nd Stage; serta Vision of Disorder dan Newsted di 3rd Stage.

Sebelum nonton, kami harus membereskan tenda dulu. Selain membongkar dan membungkus tenda ke tempatnya, kami juga harus packing. Sekitar 2 jam-an selesai semua, dan kami menyimpan barang-barang tersebut ke mobil Dom di area parkiran. Waktu datang, rasanya lokasi dekat dengan tenda. Tapi pas mau pulang, kok rasanya jauh ya…

Kembali ke lokasi tenda, kami mandi dan bersiap dan bergegas ke Arena sekitar jam 1 siang langsung ke Main Stage. Di sana, kami menemukan Coal Chamber sedang di atas panggung membuka pertunjukan dengan lagu “Loco”, dilanjut dengan “Big Truck”. Kemudian membawakan beberapa lagu dari album yang tidak pernah saya dengarkan dan menutup dengan 2 klasik “Oddity” dan “Sway”.

Coal-Chamber

Puas nonton, saya melanjutkan berjalan-jalan di wilayah Arena untuk mencari merchandise lagi sambil menunggu Stone Sour di Main Stage jam 4 sore. Masih banyak merchandise yang tersisa di tenda-tenda yang menjualnya di seputar Arena. Saya berjalan-jalan menikmati hari, sambil mampir di panggung-panggung kecil yang lokasinya agak terpencil di belakang Main Stage. Perjalanan belanja sore itu pun berakhir dengan membeli beberapa t-shirt lagi dari official merchandise booth.

Setelah puas berbelanja, saya menuju Main Stage dan di sana Stone Sour sudah mulai show.

Stone Sour di Download Festival 2013
Stone Sour di Download Festival 2013

Dari Main Stage saya pindah ke Zippo Stage, karena di situ ada Ghost yang tampil sangat prima. Konser dibuka dengan “Infestissumam”, disusul “Per Aspera ad Inferi”, “Con Clavi Con Dio” dan “Stand By Him”. Hari masih terang, tapi konser Ghost yang anker itu ditutup dengan “Ritual” dan “Monstrance Clock”. Gila keren banget band ini bikin image-nya. Pol!

Setelah Ghost saya kembali keliling-keliling menikmati sore di Donington Park dan kembali ke Zippo Stage jam 8 malam untuk nonton Limp Bizkit. Saya dulu fans berat, tapi saya tidak berharap banyak. Hanya menghabiskan penasaran aja pengen nonton Wes Borland.

Konser dibuka dengan lagu “Thieves” dari Ministry dan panggung yang juga disebut 2nd stage itu langsung digebrak dengan lagu-lagu hits “Rollin” dan “Nookie”. Kemudian “My Generation” dan “Livin’ It Up”. Di tengah lagu “My Way”, Main Stage yang hanya kelihatan atapnya dari lokasi saya berdiri tampak pesta kembang api. Saya saling memandang dengan Ebenk, Vicky dan Agung sambil senyum kagum. “Rammstein main” begitu kurang lebih yang ada di pikiran kami. Di depan saya tampak ribuan orang migrasi, dari panggung tempat Limp Bizkit ke Main Stage. Mereka mau nonton Rammstein. Saya sampai merinding melihatnya. Setelah ditinggal lebih dari sebagian penonton, Fred Durst sampe bilang gini, “Thank you for sticking around with us!”, Wes Borland bahkan sempat bercanda, “I’m going to watch Rammstein, BYE!” ujarnya di mic sambil membuat gerakan seolah akan pergi. Weird moment untuk fans Limp Bizkit, tapi magical moment buat fans Rammstein.

Di Main Stage tampak sangat bergemuruh. Saya kehilangan konsentrasi, akhirnya setelah lagu “Faith”, kami meninggalkan Zippo Stage untuk ke Main Stage nonton Rammstein. Saya tidak terlalu mengikuti Rammstein karena ngga terlalu suka lagunya. Jadi saya tidak berharap banyak. “Sudahlah, nonton saja. Kapan lagi nonton Rammstein?” begitu pikiran di benak saya. Selesai melewati sebuah lekukan di Arena yang menghalangi pandangan 2nd Stage ke Main Stage, saya terkesima dengan apa yang saya lihat. Di atas panggung yang berjarak sekitar 1 kilometer saya berdiri itu ada seseorang yang berlari mengelilingi panggung dan badannya terbakar. Saya sampai bingung. Sampai saling memandang dengan Ebenk dan keduanya bilang, “EDAN!” sambil tertawa. Rammstein memang gila. Atraksi panggungnya sinting. Meski saya tidak suka lagunya, tapi saya sangat menikmati penampilan mereka malam itu. Edan benar-benar edan.

Setelah Rammstein selesai manggung, kami berjalan bersama antrian penonton bubar ke arah lokasi tenda di mana kami janjian untuk bertemu dengan Dom. Banyak banget orang. Semua pastinya sangat letih, karena sudah 3 hari berpesta, tapi tampak muka-muka puas. Kami pun demikian.

Setelah bertemu Dom, kamipun menuju parkiran mobil dan meninggalkan Donington Park dengan perasaan selangit. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah lupa saya pernah 3 hari 3 malam berada di Donington Park, untuk nonton Download Festival. Heads up to our supporters: Kemenparekraf Indonesia, British Council, Roni Pramaditia dan Lawless Jakarta!

One reply on “Mengenang Download Festival 2013 – The Show”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *