Categories
Thoughts

Mengapa Kita Tidak Butuh ‘Statistik Irfan Bachdim’

Sepakbola nasional tidak pernah kekurangan pendukung. Sejak dulu, mendukung kesebelasan nasional adalah rutinitas bangsa. Di piala AFF kemarin, tidak terkecuali. Tapi, mungkin jadi lebih kelihatan dan terasa dukungannya karena sekarang ada situs-situs jejaring sosial.

Sayangnya, dukungan tersebut tidak pernah belum berbuah prestasi. Penyebab tim nasional tidak berprestasi? Banyak. Silahkan salahkan siapa saja yang Anda mau. Tapi melihat antusiasme, terutama masyarakat internet sebagai generasi baru pendukung tim nasional, rasanya kita tidak butuh dibodohi lagi oleh siapapun yang terlibat dengan PSSI.

Beberapa saat setelah pertandingan final berakhir, Irfan Bachdim, salah satu penyerang nasional (yang setelah diganti, kita malah bisa bikin gol), ngetwit ini:

Sekedar mengingatkan: kita kalah. Jika Anda bertanya apa itu ‘kalah’ dalam sebuah turnamen sepakbola, maka pengertiannya adalah kita tidak memenangkan Piala (sebagai tujuan akhir dari sebuah turnamen sepakbola). Jadi, dari mana Irfan bisa mengambil kesimpulan bahwa ‘kita adalah yang terbaik sepanjang turnamen’?

Omong kosong. Logika tersebut tidak berlaku di turnamen piala sepakbola. Itu hanyalah statistik. Statistik yang bisa digunakan untuk menjebak pola pikir orang. Irfan, dude. Every game is important in Cup Tournament. The 2 that you won against Malaysia were not more important than others.

Logikanya begini, cara bermain turnamen sepakbola kan sudah jelas. Makanya, sebuah tim HARUS merancang dan menjalankan strategi jitu sejak awal, untuk memenangkan piala.

Sekarang, bandingkan dengan rekan timnas lain yang ngetwit ini:

Apakah Anda merasa apa yang saya rasa?

Ini yang saya rasakan: Hamka Hamzah tidak mencoba untuk menutupi kekurangan tim-nya. Tapi langsung mengingatkan pendukungnya bahwa: (1.) Kita tidak menang, dan (2.) (sebagai bonus) Minta maaf.

Jantan, kesatria dan mengaku kalah (wong memang kalah kok :p). Pendukung tidak dibodohi dan diberi mimpi lagi. Kewenangan untuk mendukung di kembalikan kepada pendukung, yang ujungnya bakal tetap mendukung juga. What else can we do as fans anyway?

Kesimpulan:

  • Kita tidak butuh alasan lagi. Sudah terlalu lama tim nasional kita tidak berprestasi. Dan sayang sekali, pesepakbola yang paling terkenal di negara ini, yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi banyak orang, masih menggunakan statistik politik sepakbola generik agar kita masih terlihat hebat.
  • Tim nasional Indonesia kalah dari Malaysia. Hadapi kenyataan itu. Didik pendukung, dan jadilah tim nasional Indonesia yang lebih baik di turnamen-turnamen selanjutnya. Jangan khawatir, Indonesia akan selalu mendukung kalian.

May the best team win. Come on Timnas!

Disclaimer:
Saya penggemar sepakbola sejak lama yang mengelola salah satu Manchester United Blog paling terkenal di dunia.

13 replies on “Mengapa Kita Tidak Butuh ‘Statistik Irfan Bachdim’”

Garuda hebat….berikan tim garuda ini ke Malaysia….pasti akan diasuh hingga menggapai Piala Dunia..

Timnas Malaysia tiada yang istimewa,..bagaimana mereka bisa menang?? Anda tau jawabannya bukan??

Saya suka dengan twit kedua pemain itu 🙂
Memang tidak juara. The Best…yang terbaik belum tentu yang mengangkat piala, yang mengangkat piala belum tentu yang terbaik – Maupun yang mengangkat piala adalah yang terbaik, kita bisa melihatnya darimana saja.
Tapi saya setuju dengan ungkapan We are the Best of the whole tournament. Hasil akhir sebuah turnamen sepakbola adalah Piala, tapi menurut saya, Piala bukan parameter satu-satunya untuk menilai pencapaian sebuah tim.
Saya bangga mengatakan Timnas Indonesia adalah yang terbaik di turnamen ini.
Saya tidak berusaha membohongi diri sendiri, tapi memang itu yang saya rasakan dari melihat mereka bermain sejak awal turnamen hingga akhir turnamen.
Maju Terus Indonesia 🙂

Agree.
We’re not the champion. But Timnas had played BEST.
That’s make us winners. Remember how MAS won? They pointed lasers to peoples’ faces.

@Wastu

Let me guess, ini turnamen pertama Indonesia yang Anda ikuti? FYI, setiap turnamen yang PSSI ikuti selalu bikin bangga orang Indonesia kok. Tapi ya itu, emang ga pernah menang for what… 10 years? 15 years? 20 years? Oh i lost count.

Sayangnya, piala adalah satu-satunya parameter kesuksesan team (jangan sangkut pautkan dengan parameter bangga, nasionalis dan sejenisnya). Kemajuan ya, sangat penting. Tapi tahukan Anda bahwa Indonesia sudah masuk final AFF 4 kali? Jadi mana kemajuan nya?

Why does expecting to win tournament become a tense debate? We’re losers at best?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *