Categories
Thoughts

Mendukung Musisi di Era Digital

Anda tetap bisa mendukung musisi meski tidak membeli musik. Caranya? Baca artikel ini.

Saya punya cerita bagaimana seseorang bisa mendukung musisi dengan cara tidak membeli musik mereka.

Jaman Baheula

Saya berhenti beli musik sejak sekitar tahun 2002. Sebelumnya saya suka beli CD, apalagi waktu itu saya sempat punya pasangan yang koleksi CD. Jika disatukan, CD kami jadi banyaaaaaaaaaak banget. Tapi ternyata CD itu menghabiskan tempat dan biaya perawatannya mahal. Saya juga sering pindah tempat tinggal, jadi bawa koleksi CD tiap pindah itu nyusahin banget. Terlalu merepotkan.

Di tahun 2003 akhirnya saya jual semua koleksi CD untuk membeli seperangkat komputer. Waktu itu sudah mulai banyak software untuk membuat CD jadi .mp3 dan menjadi pemutarnya. Jadi saya bisa mendengarkan musik sambil belajar program komputer. “Done deal. Saya benar-benar ga perlu CD lagi!” begitu kurang lebih yang ada di pikiran saya.

Model Download yang Menyesatkan

Kemudian, ada download music ala iTunes yang disebut-sebut menyelamatkan industri rekaman dengan membuat transisi ke konsumsi musik digital. Lewat iTunes, Anda bisa download musik, yang bisa kamu nikmati di… perangkat yang dijual Apple.

Di dalam dunia yang dimiliki iTunes, untuk mendengarkan lagu yang Anda miliki, lebih tepatnya yang ada di hard drive (meski Anda sudah membeli lagu di iTunes, bukan berarti Anda memilikinya) Anda harus membeli perangkat buatan Apple. Saya perjelas. Untuk mendengarkan musik yang sudah Anda beli, yang tidak menjadi milik Anda, Anda harus membeli perangkat khusus untuk mendengarkannya. Namanya iPod.

Model ini sama dengan Anda men-download dari internet dengan cara masuk ke www.google.com dan mengetik nama album yang Anda cari. Bedanya harus bayar, dan hanya bisa dinikmati di perangkat Apple.

Ini lah satu-satunya definisi ‘musik digital’ 10 tahun lalu. Download! Makanya ada yang mengarang istilah “illegal download”, padahal yang ada hanyalah File Sharing.

10 tahun berlalu…

Sekarang saya sudah punya beberapa ratus giga musik yang saya bisa sync dengan software iTunes di komputer Macintosh saya. Dari situ, saya juga bisa sync ke iPhone dan iPad. Wow, bahkan iTunes akhirnya menemukan iTunes Match dengan 2 fitur yang berguna:

  1. Anda tinggal ‘beli’ lagu di 1 perangkat, misalnya di iPhone, kemudian Apple akan mensinkronisasi ke semua perangkat Apple yang Anda miliki.
  2. Dengan berlangganan iTunes Match, Apple akan memeriksa koleksi .mp3 yang Anda download dari internet (tanpa bayar ke siapapun) dan menukarnya dengan versi kualitas file yang lebih bagus. Dan uang berlangganan iTunes Match yang Anda bayar, akan dibagikan juga ke musisi. Yang kedua ini good deal of course untuk semua orang.

Ya ya ya. Ini skenario yang PERFECTO…

… hingga suatu hari saya beli Nexus 4, smartphone dari LG yang berbasis OS Android. Semua koleksi musik saya di iTunes tahu-tahu tidak bisa saya dengarkan lagi. Sebentar. What the f*ck is happening here?

Lagu yang saya download; yang saya bayar, tidak bisa saya nikmati lagi. Yang gratis yang malah bisa saya nikmati dengan cara mentransfer lagu-lagu tersebut secara manual ke device Nexus tersebut (the other question will be “why the hell should we pay then?”).

Now seriously what the hell is happening here? Kenapa saya ngga bisa dengerin lagu yang sudah saya bayar tapi tidak saya miliki tersebut? Oh wait… Lagu-lagu itu bukan milik saya. Itu dia, saya tambah kata kuncinya dan beri huruf tebal –> lagu yang sudah saya “beli” dengan cara membayar tapi tidak saya miliki.

Saya sudah beli, tapi tetap bukan milik saya. Makanya saya ngga bisa dengarkan di luar device yang bukan buatan Apple. That’s what happening.

Seperti juga CD. Tapi ini versi lebih murah, well ngga juga. Anda setidaknya harus beli iPod. Tapi format CD pun begitu kok. Kamu sudah beli. Mahal pula. Tapi kamu ga boleh memperbanyak dan membagikannya kepada teman-teman.

You pay to own nothing.

Here Comes Streaming (dan kawan-kawan baiknya)

Setelah model iTunes, muncul yang namanya layanan streaming. Mereka (Spotify, Deezer, dan lain-lain) lahir dan muncul ke muka bumi untuk membuat Anda bisa melakukan 1 hal: Anda tidak perlu membeli dan memiliki musik untuk bisa menikmati musik (karena toh membeli pun tidak bisa memiliki). Cukup menyewa, dan Anda bisa menikmati musik yang Anda suka kapanpun dan dimanapun Anda mau tanpa terbatas perangkat, lokasi dan Apple. Di kedua layanan tersebut, masing-masing ada 30 juta lagu. 30 JUTA LAGU. Lebih besar dari koleksi Anda, ditambah semua teman-teman Anda, semua handai taulan Anda, semua follower Twitter Anda, yang cuma ada 120 gb di iPod classic yang hard drive nya bisa rusak itu (rusak = koleksi hilang).

Kemudian, setiap Anda menikmati musik, Spotify dan Deezer akan membayar musisi sebagian dari hasil Anda membayar uang berlangganan atau dari penghasilan iklan.

Sekarang saya sangat menikmati musik streaming. Saya bayar bulanan ke Spotify. Dan nanti Spotify akan bayar ke musisi, termasuk band yang ada di Musikator. Good deal!

  1. Saya ga perlu device khusus untuk menikmati musik. Cukup menggunakan perangkat yang ada, yang toh memang saya harus beli untuk cari duit.
  2. Saya bisa menikmati musik tanpa harus pusing mikirin storage ataupun hard drive yang rusak.

Inilah yang saya maksud dengan men-support musisi tanpa membeli. Well, bagusnya lagi, tidak ada yang namanya illegal streaming and it’s all good so far.

Musisi Yang Fasis

Kalau Anda bukan musisi seperti ini, bagus. Keep it up. You’ll be fine. Tapi seperti ini masih suka ngelewat di timeline Twitter (ngga begitu amat sih ya tapi saya ambil contoh ekstrim):

Support Musisi! Beli CD Kami! Kalau Ngga Anda Bukan Fans. Tapi maling! You can f*ck off, die and rot in hell! F*CK OFF AND ROT IN HELL!

OH… DON’T FORGET TO DIE TOO!

Musisi yang budiman, who the f*ck cares what you think?

Kenyataannya, fans yang memang fans, yang mau dan mampu membeli CD (jika label band Anda mampu memproduksinya) sudah membeli CD. Mereka yang ga bakal beli CD ya ga bakal beli CD. Mereka itu fans atau tidak ya perduli amat.

Contoh, Anda tidak bisa memaksa saya membeli CD Anda. Emang mau bayarin? Terus nanti kalo gue pindah rumah lagi lo mau bawain CD-CD itu? Ya suka-suka gue aja.

BYE!

Kesimpulan

Beberapa pelajaran dari cerita di atas adalah (Anda bisa menambahkan sendiri):

  1. Anda, sebagai konsumen, boleh memilih. Beli CD, beli piringan hitam, download, streaming. Bahkan jika Anda tetap memilih file sharing tanpa mau bayar musisi juga itu pilihan Anda. Tapi jika Anda memilih yang terakhir, kemungkinan Anda tidak bisa lagi disebut sebagai konsumen.
  2. Format musik akan terus berubah. Sesuai dengan perkembangan perilaku dan gaya hidup manusia, yang mempengaruhi cara mereka menikmati musik.
  3. Tidak seperti era mekanik, di era digital, format yang berubah juga bisa berbeda model bisnis. Misalnya dari beli, ke sewa. Bukan sekedar dari format kaset ke CD. Logikanya ada di presentasi saya “Musik di Era Digital“.
  4. Support itu bisa apa saja. Orang punya pilihan (sayangnya). Jadi, pintar-pintar mengambil peluang ditengah pilihan orang yang banyak ini. BANYAK yang bisa Anda lakukan untuk tetap hidup dan bermusik.
  5. Musisi jangan keras kepala dan memelihara kebodohan. Yuk belajar optimisasi di era digital. Let’s conquer this world once again!

 

4 replies on “Mendukung Musisi di Era Digital”

[…] Saya sempat membeli beberapa film dari iTunes. Setelah dibayar dan di download, ternyata film-film tersebut tidak bisa saya tonton di device lain selain iPhone, iPod, iPad maupun Mac (bisa lewat iTunes di Windows PC tapi siapa yang mau pake komputer butut? :p). Itupun harus di otorisasi dengan Apple ID yang digunakan ketika membeli. Untuk menikmati konten digital, streaming lebih masuk akal. […]

[…] Meskipun demikian, “Never before have so many people owned one album, let alone on the day of its release“, adalah benar. Dan ini adalah kabar baik untuk industri musik. Umat manusia akhirnya bisa merilis album yang dapat dinikmati secara serempak di seluruh dunia, terimakasih atas kekuatan server Apple untuk menyimpan file audio sementara jutaan penggemar dari seluruh penjuru bumi mengunduhnya. Tapi meskipun kabar baik, tetap saja kata “owned” itu janji palsu. Karena dari sisi hukum, tidak ada orang yang bisa “memiliki” album U2 kecuali U2 menjualnya (baca ulasan saya di artikel ini). […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *